"Saya bisa memberitahu Anda hari ini, bahwa Amerika Serikat akan mengerahkan sekitar 200 tentara tambahan di Suriah," terang Menteri Pertahanan AS, Ahston Carter dalam konferensi 'Manama Dialogue on Midle East Security' di Bahrain, seperti dilansir AFP, Sabtu (10/12/2016).
Tentara tambahan ini, sebut Carter, akan melengkap 300 anggota pasukan khusus AS yang telah ditugaskan di Suriah, untuk membantu pasukan Kurdi-Arab yang pekan ini memulai pertempuran melawan ISIS di Raqqa. Operasi itu bertepatan dengan operasi militer merebut Mosul, Irak dari ISIS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baik Raqqa maupun Mosul menjadi dua markas terakhir ISIS di tengah berbagai gempuran militer dari koalisi pimpinan AS. Gempuran itu membuat ISIS kehilangan banyak wilayah strategis di Suriah dan Irak selama beberapa bulan terakhir.
Lebih lanjut, Carter menyebut pengerahan tentara tambahan ini termasuk pakar penjinak bom. Seperti diketahui bahwa bom mobil dan ranjau banyak digunakan ISIS sebagai senjata di wilayah-wilayah yang pernah mereka kuasai.
"Menghancurkan tumor induk dari kanker ISIL di Irak dan Suriah, karena semakin cepat kita menghancurkan fakta dan gagasan kekhalifahan yang didasarkan pada ideologi biadab ISIL, kita akan lebih cepat aman," tegasnya soal tujuan utama koalisi pimpinan AS.
Ditambahkan Carter, bahwa Rusia yang kini menjadi pendukung rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad, hanyalah memperburuk konflik Suriah. "Memperpanjang penderitaan rakyat Suriah," sebutnya.
Konflik Suriah menghadapkan rezim Presiden Assad yang didukung Iran, Rusia dan milisi Syiah, dengan pemberontak yang sebagian besar Sunni yang didukung Turki, negara-negara Turki dan AS. Konflik berbeda menempatkan seluruh pihak berhadapan dengan ISIS, yang berusaha memanfaatkan kekacauan di Suriah.
(nvc/bpn)











































