Obama Perintahkan Pengkajian Penuh Atas Serangan Dunia Maya Semasa Pilpres

Obama Perintahkan Pengkajian Penuh Atas Serangan Dunia Maya Semasa Pilpres

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 10 Des 2016 16:07 WIB
Obama Perintahkan Pengkajian Penuh Atas Serangan Dunia Maya Semasa Pilpres
Barack Obama (REUTERS/Jonathan Ernst)
Washington DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama memerintahkan pengkajian seluruh serangan dunia maya yang terjadi sepanjang proses pilpres tahun ini. Perintah ini dikeluarkan di tengah kekhawatiran intervensi Rusia pada pilpres AS.

Dituturkan Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih, Eric Schultz, seperti dilansir AFP, Sabtu (10/12/2016), bahwa Obama menyerukan pengkajian segera dimulai awal pekan depan. Hal ini di tengah maraknya seruan dari Kongres AS yang meminta lebih banyak informasi soal dugaan intervensi Rusia selama masa kampanye pilpres.

"Kami berkomitmen untuk menjamin integritas pemilu kita dan laporan ini akan menggali pola aktivitas dunia maya yang jahat terhadap pemilu kita, juga mengkaji kemampuan pertahanan kita dan pelajaran sebelumnya memberitahu kita untuk memastikan anggota Kongres dan pemangku kepentingan diberi penjelasan dengan tepat," terang Schultz.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ditambahkan Schultz, bahwa Obama meminta laporan pengkajian diselesaikan sebelum masa jabatannya berakhir pada 20 Januari 2017. "Kita akan membukanya ke publik semampu kita. Ini menjadi prioritas utama presiden," sebutnya.

Baca juga: CIA Meyakini Rusia Intervensi Pilpres AS untuk Menangkan Donald Trump

Langkah ini dilakukan usai anggota parlemen dari Partai Demokrat menekan Gedung Putih untuk mengungkapkan rincian, baik ke Kongres maupun ke publik, soal dugaan peretasan dan penyebaran informasi palsu oleh Rusia semasa kampanye pilpres.

Email-email rahasia dari Komisi Nasional Partai Demokrat dan John Podesta yang merupakan manajer kampanye Hillary Clinton, dibocorkan secara bertahap via WikiLeaks sejak beberapa bulan sebelum pilpres. Kemunculan email retasan itu menodai pencapresan Hillary yang akhirnya kalah dari Donald Trump.

Trump yang kini menjadi presiden terpilih AS membantah dugaan intervensi Rusia dalam pilpres AS. "Saya tidak percaya mereka (Rusia) mengintervensi. Bisa jadi Rusia. Dan bisa jadi China. Dan bisa juga seorang pria di rumahnya di New Jersey," ucap Trump dalam wawancara dengan majalah TIME usai dia dinobatkan menjadi 'Person of the Year' tahun 2016.

Khawatir Trump akan mengabaikan isu ini, tujuh anggota parlemen Partai Demokrat yang tergabung dalam Komisi Intelijen Senat AS menyerukan pada 29 November lalu, agar Gedung Putih mengungkapkan seluruh hal yang diketahui pemerintah soal dugaan intervensi Rusia. Tujuh anggota parlemen Demokrat itu telah mendapat penjelasan terkait dugaan intervensi Rusia dan mereka merasa publik perlu tahu lebih banyak soal hal tersebut.

Baca juga: Trump Kecam CIA Soal Keyakinan Rusia Intervensi Pilpres AS

Pekan ini, anggota DPR AS atau House of Representatives dari Partai Demokrat menyerukan kepada Presiden Obama untuk memberikan penjelasan kepada seluruh anggota Kongres, soal dugaan intervensi Rusia, mulai dari peretasan hingga penyebaran berita palsu yang mempengaruhi pemilih AS.

Anggota parlemen dari Partai Republik telah berjanji akan menggelar rapat dengar pendapat membawa aktivitas dunia maya Rusia, begitu pemerintahan yang baru terbentuk. Namun ada pihak-pihak yang menuding Demokrat mengangkat isu ini karena belum bisa menerima kekalahan dalam pilpres.

Lebih lanjut, Schultz membantah jika disebut politik menjadi motif Obama memerintahkan pengkajian ini. "Saya ingin memperjelasnya, bahwa ini bukan upaya untuk menantang hasil pilpres," tandasnya.

(nvc/fdn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini