Pejabat PBB Tuduh Myanmar Lakukan Pembersihan Etnis pada Rohingya

Pejabat PBB Tuduh Myanmar Lakukan Pembersihan Etnis pada Rohingya

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 25 Nov 2016 11:06 WIB
Pejabat PBB Tuduh Myanmar Lakukan Pembersihan Etnis pada Rohingya
Pengungsi Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)
Dhaka - Seorang pejabat Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyebut pemerintah Myanmar sedang melakukan pembersihan etnis terhadap warga Rohingya di Rakhine. Kisah-kisah mengerikan seperti pemerkosaan bergiliran, penyiksaan dan pembunuhan bermunculan dari ribuan warga minoritas Rohingya yang kabur ke Bangladesh.

Disebutkan PBB dalam laporannya, seperti dilansir AFP, Jumat (25/11/2016), sekitar 30 ribu warga Rohingya telah meninggalkan rumah mereka di Myanmar demi menyelamatkan diri dari aksi kekerasan yang terus terjadi. Sejak awal bulan ini, tentara Myanmar terus bergerak di wilayah negara bagian Rakhine yang menjadi tempat tinggal etnis minoritas Rohingya.

Pengungsi Rohingya di BangladeshFoto: REUTERS/Mohammad Ponir Hossain
Pengungsi Rohingya di Bangladesh

John McKissick selaku Ketua Badan Pengungsi PBB atau UNHCR untuk wilayah kota perbatasan Cox's Bazar di Bangladesh, menuturkan kepada BBC bahwa para pengungsi Rohingya menceritakan bagaimana sesama mereka dibunuh, disiksa dan diperkosa oleh tentara Myanmar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka (tentara Myanmar) membunuh para pria, menembaki mereka, membantai anak-anak, memperkosa wanita, membakar dan menjarah rumah-rumah, memaksa orang-orang ini menyeberangi sungai (ke Bangladesh)," terang McKissick.

Baca juga: Hindari Konflik di Myanmar, Makin Banyak Warga Rohingya Kabur ke Bangladesh

Di sisi lain, otoritas Bangladesh melawan dorongan internasional untuk membuka perlintasan perbatasannya demi mencegah krisis kemanusiaan. Bangladesh malah meminta otoritas Myanmar untuk lebih banyak bertindak demi mencegah warga Rohingya, yang tidak memiliki kewarganegaraan itu, masuk wilayahnya.

"Sangat sulit bagi pemerintah Bangladesh untuk membiarkan perbatasan tetap terbuka karena akan mendorong pemerintah Myanmar melanjutkan kekejaman dan mengusir mereka (minoritas Rohingya) keluar hingga mencapai tujuan utama mereka yakni pembersihan etnis minoritas muslim di Myanmar," tegas McKissick.

Pengungsi Rohingya diamankan penjaga perbatasan BangladeshFoto: REUTERS/Mohammad Ponir Hossain
Pengungsi Rohingya diamankan penjaga perbatasan Bangladesh

Menanggapi pernyataan itu, juru bicara Presiden Myanmar menyatakan kecamannya. "Saya ingin mempertanyakan profesionalisme dan etika yang seharusnya dipatuhi dan dihormati staf PBB. Dia (McKissick-red) seharusnya berbicara dengan didasarkan pada fakta konkret dan kebenaran, dia seharusnya tidak menyampaikan tudingan," tegas Zaw Htay kepada AFP.

Ini bukan pertama kalinya klaim semacam ini diarahkan kepada pemerintah Myanmar. Tahun 2013 lalu, organisasi pemantau HAM Human Rights Watch (HRW) menyebut Myanmar melakukan praktik pembersihan etnis terhadap minoritas Rohingya. Saat itu, Presiden Thein Sein yang masih menjabat mengecamnya sebagai 'fitnah'.

Baca juga: Bangladesh Serukan Myanmar Bertindak Cepat Untuk Lindungi Warga Rohingya

Minoritas Rohingya tidak disukai oleh kebanyakan warga Myanmar yang mayoritas menganut Buddha. Banyak warga Myanmar memandang minoritas muslim Rohingya sebagai imigran ilegal dan bahkan menyebutnya 'Bengali' meskipun mereka sudah berabad-abad tinggal di Myanmar. Sebagian besar minoritas Rohingya tinggal di wilayah Rakhine yang sarat kemiskinan. Warga Rohingya tidak diakui sebagai warga negara oleh pemerintah Myanmar serta dibatasi pergerakan dan juga akses pada lapangan pekerjaan.

(nvc/ita)


Berita Terkait