Laporan tersebut berdasarkan analisis citra satelit dari kelompok hak asasi manusia, Human Rights Watch (HRW) yang dirilis hari ini, seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (21/11/2016).
Pasukan Myanmar telah diturunkan ke wilayah negara bagian Rakhine di sepanjang perbatasan Bangladesh, yang banyak dihuni oleh warga muslim Rohingya, sejak serangkaian serangan mematikan oleh massa bersenjata terhadap pos-pos polisi perbatasan bulan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ratusan warga Rohingya yang telah lama mengalami penindasan oleh pemerintah Myanmar, telah mencoba kabur ke negara tetangga Bangladesh sejak kekerasan tersebut.
Para saksi mata dan aktivis melaporkan, pasukan Myanmar telah membunuh warga Rohingya, memperkosa kaum wanita dan menjarah serta membakar rumah-rumah mereka. Namun pemerintah Myanmar membantah hal tersebut dan tidak mengizinkan para pengamat internasional menyelidiki hal tersebut.
Bahkan pemerintahan baru Myanmar yang dipimpin oleh peraih Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi, telah membantah tuduhan-tuduhan tersebut. Disebutkan bahwa tudingan tersebut sebagai bagian dari kampanye penyebaran informasi keliru oleh para "teroris".
Upaya verifikasi secara independen di lokasi pun tak bisa dilakukan, karena adanya larangan bagi para jurnalis untuk meliput dan susahnya badan-badan kemanusiaan menjangkau wilayah tersebut.
Menurut HRW, pihaknya telah mengidentifikasi 820 bangunan dihancurkan di lima desa Rohingya antara 10-18 November, dengan menggunakan citra satelit. Secara total, menurut HRW, analisis satelitnya menunjukkan 1.250 bangunan rata dengan tanah selama operasi militer Myanmar sejak Oktober lalu.
Namun pemerintah Myanmar menyatakan, hanya kurang dari 300 rumah yang hancur dalam serangan para militan yang ingin "menebar bibit kesalahpahaman antara pasukan pemerintah dan rakyat".
Maraknya kembali kekerasan di negara bagian Rakhine, Myanmar barat ini mengingatkan kembali pada gelombang kekerasan di wilayah itu pada tahun 2012 silam. Saat itu, lebih dari 100 orang tewas dalam berbagai bentrokan antara warga mayoritas Buddha dan warga minoritas Rohingya. Konflik itu juga menyebabkan puluhan ribu warga Rohingya tinggal di kamp-kamp pengungsi.
(ita/ita)











































