Kelompok Taliban menyebut ledakan bom tersebut sebagai "serangan pembalasan" atas serangan-serangan udara Amerika Serikat di provinsi Kunduz awal bulan ini, yang menewaskan 32 warga sipil Afghan.
"Pengebom bunuh diri menabrakkan mobilnya yang bermuatan bahan peledak ke tembok konsulat Jerman," ujar kepala kepolisian lokal Sayed Kamal Sadat seperti dikutip kantor berita AFP, Jumat (11/11/2016). Disebutkan bahwa setelah ledakan bom terjadi tembakan sporadis yang memecahkan kaca-kaca jendela di toko-toko sekitar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Simpati kami untuk warga Afghan yang terluka dan keluarga-keluarga mereka," demikian disampaikan Kementerian Luar Negeri Jerman.
Dokter setempat Noor Mohammad Fayez, setidaknya dua jasad dan lebih dari 100 korban luka -- termasuk setidaknya 10 anak -- telah dibawa ke dua rumah sakit di kota tersebut. Sejumlah korban luka saat ini dalam kondisi kritis.
Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengklaim "serangan martir" tersebut telah menewaskan puluhan orang. Kelompok militan tersebut selama ini memang kerap melebih-lebihkan jumlah korban dalam serangan-serangannya. (ita/ita)










































