Demikian disampaikan Perdana Menteri (PM) Turki Binali Yildirim seperti dilansir kantor berita Reuters, Jumat (4/11/2016).
Ledakan bom tersebut terjadi beberapa jam setelah polisi menahan para pemimpin partai pro-Kurdi, Peoples' Democratic Party (HDP) yang merupakan partai politik terbesar di wilayah yang berpenduduk mayoritas Kurdi tersebut. Bom mobil tersebut meledak di dekat kantor polisi tempat sejumlah pemimpin partai HDP sedang ditahan terkait penyelidikan dugaan terorisme.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada para wartawan, PM Yildirim mengatakan bahwa para pejabat yang menghasut dan mendorong terorisme harus menghadapi proses hukum dan bahwa mereka ditahan karena menolak memberikan kesaksian.
Penangkapan tersebut langsung menuai kecaman dari Uni Eropa. Terlebih lagi, ini terjadi seiring otoritas Turki telah menahan atau menskorsing lebih dari 110.000 pejabat menyusul upaya kudeta pada Juli lalu. Pemerintah Turki pun saat ini tengah mempertimbangkan untuk memperkenalkan kembali hukuman mati.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini mengatakan, dirinya sangat prihatin akan penangkapan tersebut. Dia pun menyerukan pertemuan para duta besar Uni Eropa di Ankara, Turki. (ita/ita)











































