Terjangan topan super Haima mengingatkan warga pada kehancuran yang ditimbulkan topan Haiyan pada tahun 2013 lalu. Topan Haiyan menjadi momok mengerikan warga Filipina karena merenggut lebih dari 7.350 nyawa.
Seperti dilansir AFP dan Reuters, Kamis (20/10/2016), topan super Haima menerjang wilayah Filipina pada Rabu (19/10) malam waktu setempat. Topan ini bergerak ke kawasan pegunungan dan lahan pertanian warga yang ada di bagian utara Pulau Luzon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua orang di lingkungan kami, atap rumahnya terbang," imbuhnya.
Haima menyentuh kawasan pantai utara Filipina, yang menghadap Samudera Pasifik, dengan membawa angin berkecepatan 225 kilometer per jam. Sedikitnya 90 ribu warga setempat dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Belum ada laporan kerusakan besar akibat topan ini, meskipun aliran listrik dan jalur komunikasi di beberapa daerah terputus.
"Kami menerima sejumlah laporan soal atap rumah warga yang terkoyak karena angin kencang. Aliran listrik terputus dan sinyal telepon genggam timbul-tenggelam," terang juru bicara Badan Penanggulangan dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional, Mina Marasigan.
Presiden Rodrigo Duterte yang sedang berada di Beijing, China meminta pengerahan seluruh kemampuan untuk menghadapi topan super Haima. "Kita berdoa agar kita dijauhkan dari kehancuran seperti sebelumnya, yang membawa penderitaan," ucap Duterte.
"Tapi kita siap. Semuanya telah dikerahkan," imbuhnya.
Sejauh ini dilaporkan lima orang tewas yang sebagian besar tertimbun tanah longsor yang dipicu topan ini. Otoritas setempat menyebut, dua orang yang berusia 16 tahun dan 17 tahun tewas tertimbun longsor saat tertidur di rumah mereka di Ifugao. Dua orang lainnya, yang dilaporkan pekerja konstruksi, tewas terkubur longsor yang menimpa sebuah gubuk di kawasan pegunungan setempat. Satu orang lainnya tewas setelah terkena serangan jantung saat dibawa ke kamp darurat di wilayah Isabela yang dilanda banjir.
(nvc/ita)











































