"Kami berdua memutuskan untuk mundur sebagai kuasa hukumnya. Kami tak dapat memintanya untuk bicara dan dia akan menggunakan haknya untuk tetap diam," ujar Berton dan Mary dalam wawancara dengan televisi Perancis, BFM TV, seperti dilansir AFP, Kamis (13/10/2016).
Karena Abdeslam dianggap tak kooperatif, keduanya tak dapat berbuat apa-apa karena pernyataan Abdeslam merupakan satu-satunya cara untuk membela pria tersebut di pengadilan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abdeslam merupakan satu pelaku yang selamat di balik serangan 13 November di gedung konser musik, bar, dan staion sepakbola yang menyebabkan 130 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka.
ISIS mengklaim sebagai pihak yang bertanggungjawab dalam serangan tersebut. Abdeslam sendiri menolak untuk menjawab seluruh pertanyaan sejak dipindahkan dari Perancis ke Belgia pada bulan April lalu.
Sebelum bungkam, jelas Berton, dia sempat berbicara dengan Abdeslam sebanyak 10 kali melalui sambungan telepon. Dia mengatakan pria 27 tahun tersebut telah menulis pernyataan pada otoritas setempat kalau dia tak lagi membutuhkan pembela.
Polisi mengungkapkan, Abdeslam mengaku dirinya yang mengatur logistik untuk penembakan dan pengeboman di Paris pada 13 November 2015 lalu. Abdeslam juga mengaku dirinya seharusnya ikut meledakkan diri di stadion Paris, namun mengurungkan niatnya pada menit-menit terakhir.
Dalam kaitannya dengan teror Paris, Abdeslam dicurigai menyewa dua mobil khusus untuk mengantarkan para pelaku serangan dari dan ke Paris. (rni/imk)











































