DetikNews
Senin 10 Oktober 2016, 16:45 WIB

Cara Hillary "Menjinakkan" Donald Trump

Sapto Pradityo - detikNews
Cara Hillary Menjinakkan Donald Trump Foto: Getty Images
Jakarta -

Sejak terpilih menjadi anggota Senat Amerika Serikat lima belas tahun lalu, sudah puluhan kali Hillary Clinton naik podium untuk berdebat. Tapi tak ada satu pun lawan debat dia sebelumnya seperti Donald Trump, triliuner yang punya lidah "api".

Tim kampanye calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat ini khawatir, serangan-serangan tajam, juga tak jarang kasar, dari Trump, bisa membuat Hillary kehilangan kendali. "Kami takut Hillary bakal kehilangan momen, sebab tak ada orang sebaik Trump dalam merebut momen dalam debat," ujar seorang penasehat kampanye Hillary, kepada Politico.

Bagi tim Hillary, Donald Trump adalah "kartu" liar yang sulit ditebak arah serangannya. Mereka paham bahwa Trump tak akan ragu mengangkat segala isu ke atas podium, termasuk mengungkit isu perselingkuhan Presiden Bill Clinton, suami Hillary, di masa lalu. Dus, Hillary harus mengantisipasi kemungkinan serangan dari segala penjuru.

"Hillary paham bahwa saat itu pasti akan tiba," kata Jennifer Gransholm, anggota tim Hillary, dikutip New York Times, beberapa pekan lalu. Dan pada debat calon Presiden Amerika kedua hari ini, akhirnya Donald Trump yang posisinya makin terpojok, benar-benar menembakkan isu lama tersebut.

Untung tim Hillary sudah bersiap jauh-jauh hari. Mereka mengintip dan mengendus rupa-rupa kelemahan Mister Trump. "Persiapan ini sangat penting karena akan memberi Hillary keyakinan bahwa dia siap menghadapi segala kemungkinan," ujar seorang anggota timnya. Dibantu para analis politik dan tim debat, Hillary juga sudah siap sedia menghadapi kata-kata apapun yang keluar dari mulut Donald Trump.

"Aku akan berusaha semampuku untuk mengkomunikasikan gagasanku sejelas mungkin di tengah segala macam penghinaan," kata Hillary saat diwawancara oleh pembawa acara radio Steve Harvey. "Aku bisa menghadapinya, Steveā€¦.Aku bisa menghadapi hal semacam itu."

Beberapa pekan sebelum debat pertama, tim Hillary menemui Tony Schwartz, penulis biografi Donald Trump, Art of the Deal. Tim Hillary percaya, Tony yang pernah menghabiskan waktu berbulan-bulan bersama Trump sangat paham orang seperti apa mantan bosnya itu.

Trump, Tony menuturkan kepada majalah New Yorker, punya sejumlah masalah dalam berdebat. "Dia punya masalah serius dalam memfokuskan perhatian dan sulit mengolah informasi yang kompleksā€¦..Dia tak akan bisa berlatih berdebat," kata Tony. "Donald tak akan menyampaikan apapun kecuali gertakan saat berdebat. Dia hanya akan mengulang-ulang pernyataannya dan tak akan menyampaikan apapun yang bermakna."

Trump tampaknya memang sangat percaya diri dengan kemampuannya berdebat di podium. Dia berpendapat, persiapan debat, termasuk banyak membaca materi dan berlatih menghadapi macam-macam serangan lewat simulasi debat, tak terlalu penting. Padahal timnya sudah menyiapkan analisis profil psikologi Hillary dan mendatangkan orang untuk berperan sebagai lawannya dalam simulasi debat.

"Hal itu malah bisa berbahaya, justru membuat kita tampak kaku dan palsu," kata Trump, dikutip New York Times. Dia lebih suka tampil seperti dia apa adanya. Kellyanne Conway, anggota tim kampanye Trump, membela bosnya. "Dia bukan kandidat konvensional, sehingga gaya persiapan model lama tak cocok untuk Donald Trump."

Lain Trump, lain pula gaya Hillary. "Seperti para perempuan, aku cenderung over prepare," kata Hillary kepada CNN. Menjelang debat pertama, hampir setiap hari Hillary pulang menjelang tengah malam dari Hotel Doral Arrowwood, tempat dia dan timnya mempersiapkan diri.

Sebagai lawan debat, Hillary dan timnya menunjuk Phillipe Reines, pembantu Hillary sejak bertahun-tahun lalu. Reines berperan menjadi Donald Trump dalam pelbagai "versi", versi yang lebih lunak hingga versi paling kasar. Reines tak hanya biasa bersikap keras dalam kehidupan sehari-hari, tapi dia, menurut Patti Solis Doyle, Manajer Kampanye Hillary saat seleksi kandidat Presiden Amerika dari Partai Demokrat pada 2008, juga dipercaya oleh Hillary.

Sehingga tak ada soal bagi Reines untuk meledek, mengejek, bahkan mungkin merendahkan Hillary dalam simulasi debat. "Reines sangat cocok menjadi Donald Trump bagi Hillary, karena dia pintar, tapi juga menjengkelkan," kata Paul Begala, konsultan politik untuk Al Gore pada pemilihan Presiden Amerika tahun 2000.
(sap/hbb)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed