Operasi militer Rusia via udara di Suriah dilakukan sebagai bentuk dukungan untuk rezim Presiden Bashar al-Assad. Sedangkan via darat, pasukan militer rezim Assad melawan kelompok pemberontak di kota Aleppo. Rusia sendiri dituding melakukan pengeboman secara membabi-buta di Aleppo, termasuk menargetkan sejumlah rumah sakit.
Sekjen PBB telah menyerukan penghentian praktik 'kekerasan mengerikan' di Aleppo. Rusia membantah telah menyerang rumah sakit di Aleppo dengan sengaja. Namun kembali memicu reaksi keras, seperti dilansir AFP, Rabu (5/10/2016), Rusia malah mengakui pengerahan sistem rudal S-300 ke Tartus, yang ada di Pantai Mediterania.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Tentara Turki Tewas dalam Pertempuran Melawan ISIS di Suriah
Dalam pernyataan terpisah, juru bicara Departemen Pertahanan AS, Peter Cook, menyatakan sistem rudal Rusia tidak akan banyak mempengaruhi operasi militer koalisi AS via udara, terhadap kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Suriah bagian utara. Namun AS mempertanyakan alasan Rusia mengirimkan sistem rudal canggih itu.
"Terakhir kali saya cek, Rusia menyebut tujuan utama mereka adalah memerangi ekstremisme, ISIL (nama lain ISIS) dan Nusra (Al-Nusra Front) di Suriah. Tidak satupun dari kedua militan itu memiliki pasukan udara... Jadi ini menjadi hal yang akan kami awasi dengan hati-hati," tegas Cook.
"Tapi seharusnya sudah jelas bagi Rusia dan siapa saja yang menggelar operasi di Suriah, soal bagaimana seriusnya kami memperjuangkan keselamatan pasukan udara kami," imbuhnya.
Selain mengoperasikan fasilitas angkatan laut di Tartus, Rusia juga memiliki pangkalan udara di luar kota Latakia, Suriah. Pangkalan udara itu kini menjadi markas pesawat-pesawat perang Rusia yang melakukan pengeboman di Suriah untuk mendukung rezim Assad.
Baca juga: Pemimpin Besar ISIS Dikabarkan Diracun Orang-orang Tak Dikenal
Pada Senin (3/10) malam, otoritas AS menyatakan untuk menghentikan sementara upaya mewujudkan kembali gencatan senjata secara nasional di Suriah. AS menuding Rusia bersekongkol dengan rezim Assad dalam serangan di Aleppo. Seorang sumber pejabat AS menyebut, Menteri Luar Negeri AS John Kerry fokus untuk mencari solusi diplomatik bagi Suriah. Namun perundingan dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov soal krisis Suriah, telah diakhiri untuk saat ini.
"Kesabaran semua orang dengan Rusia sudah habis," sebut juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest.
(nvc/ita)











































