Seperti dilansir AFP, Senin (3/10/2016), jaringan restoran Ichibazushi yang berbasis di Osaka merilis permintaan maaf di situsnya pada Minggu (2/10).
Mereka mengaku telah memberikan porsi wasabi yang terlalu banyak dan membantah ada motif diskriminasi di baliknya.
Ichibazushi bersikeras bahwa sushi yang diisi wasabi itu untuk merespons permintaan para pelanggan yang lahir di luar negeri, yang memesan porsi ekstra wasabi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena banyak pelanggan kami dari luar negeri yang kerap memesan porsi ekstra acar jahe dan wasabi, kami memberi mereka demikian tanpa memeriksa terlebih dahulu," demikian penyataan pengelola jaringan restoran Ichibazushi.
"Hasilnya sangat tidak menyenangkan bagi beberapa pelanggan yang bukan penggemar wasabi," imbuhnya.
Insiden ini diberitakan oleh media nasional Jepang dan menggunakan istilah 'terorisme wasabi' dari komentar online terhadap kasus itu. Beberapa pengguna internet juga menyebut kasus ini sebagai kasus rasialisme.
"Itu bukan permintaan maaf; itu hanyalah alasan-alasan belaka. Apa yang mereka lakukan adalah kejahatan kebencian," sebut pengguna Twitter di Jepang dengan nama @sakeuchi317.
(nvc/ita)










































