Seperti dilansir AFP, Sabtu (1/10/2016), Presiden Park dalam pesannya mengundang warga Korut untuk pindah ke tanah kebebasan di Korsel. Pesan ini disampaikan Park saat berpidato dalam peringatan hari jadi Angkatan Bersenjata Korsel.
"Kami semua menyadari kenyataan mengerikan yang Anda hadapi. Nilai-nilai universal dari kebebasan, demokrasi, HAM dan kesejahteraan adalah hak-hak berharga yang seharusnya Anda nikmati," seru Presiden Park yang ditujukan untuk warga Korut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Dilempar Granat oleh Penjaga Pantai Korsel, 3 Nelayan China Tewas
Seruan Presiden Park ini disampaikan selang sebulan setelah Wakil Duta Besar Korut untuk Inggris membelot ke Korsel. Pembelotan itu meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea. Sepanjang tahun ini, Korut menguji coba lebih dari 20 rudal dan bahkan menggelar dua kali uji coba nuklir.
Lebih lanjut, Presiden Park menyebut pembelotan oleh Korut yang melarikan diri dari kelaparan dan penindasan, mengalami peningkatan secara drastis. "Terjadi pembelotan yang gigih, bahkan oleh pejabat elite Korut yang mendukung rezim (pemerintahan Korut)," sebutnya.
Pada April 2016, sebanyak 12 pelayan dan manajernya yang bekerja di restoran Korut di China menjadi pemberitaan utama saat tiba di Korsel. Pembelotan ini menjadi menjadi bentuk pembelotan dalam kelompok cukup besar, yang langka terjadi.
Selama beberapa tahun terakhir, nyaris 30 ribu warga Korut membelot ke Korsel karena ingin melarikan diri dari kemiskinan dan penindasan. Namun data statistik menunjukkan, jumlah pembelot mengalami pengurangan hingga separuh sejak Kim Jong Un menggantikan mendiang ayahnya, Kim Jong Il, pada Desember 2011 lalu.
Baca juga: Lintasi Perbatasan, Tentara Korut Membelot ke Korsel
Kebanyakan mereka yang berhasil kabur ke Korsel, telah memiliki keluarga yang lebih dulu membelot dan tinggal di Negeri Ginseng tersebut. Atau dalam beberapa kasus, mereka yang berhasil membelot biasanya memiliki koneksi dengan keluarga elite. Pembelotan terbaru terjadi pada Jumat (30/9), saat seorang pria melintasi garis demarkasi militer di perbatasan kedua Korea.
(nvc/nwk)










































