Seperti dilaporkan kantor berita Turki, Anadolu, dan dilansir AFP, Selasa (13/9/2016), Kementerian Kehakiman Turki telah mengajukan permintaan kepada otoritas AS untuk menangkap Gulen, yang menetap di Pennsylvania sejak meninggalkan Turki tahun 1999 lalu.
"Memerintahkan dan memimpin percobaan kudeta," sebut Anadolu dalam laporannya soal tudingan peran Gulen. Ini merupakan pertama kalinya Turki meminta secara resmi kepada AS untuk menangkap Gulen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa waktu terakhir, Turki berulang kali meminta AS untuk mengekstradisi Gulen. Turki bahkan telah mengirimkan sejumlah dokumen untuk menunjukkan keterlibatan Gulen dalam percobaan kudeta di Turki.
Bulan lalu, sebuah pengadilan di Istanbul mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Gulen terkait percobaan kudeta. Namun dalam berbagai kesempatan, Gulen selalu membantah terlibat dalam percobaan kudeta di Turki pada Juli lalu.
Saat Wakil Presiden AS Joe Biden mengunjungi Ankara, beberapa waktu lalu, Biden mengaku bisa memahami 'perasaan intens' yang ada di Turki terkait Gulen. Saat itu, Biden menegaskan, AS tidak punya kepentingan khusus untuk melindungi Gulen.
Baca juga: Gulen: Doakan Turki Normal Kembali
"Tidak ada kepentingan apapun untuk melindungi siapapun yang membahayakan sekutu. Tidak ada. Tapi kami perlu memenuhi persyaratan standar hukum yang berlaku sesuai undang-undang kami," tegasnya.
Isu soal Gulen juga dibahas dalam pertemuan Presiden Recep Tayyip Erdogan bersama Presiden AS Barack Obama di sela-sela KTT G20 di China, awal bulan ini. Seorang pejabat senior pemerintahan AS menyebut, saat itu Obama menjelaskan kepada Erdogan bahwa keputusan AS soal ekstradisi Gulen nantinya murni bersifat hukum, bukan politis.
Gulen sendiri meminta masyarakat Turki dan dunia internasional untuk menggunakan logika dengan jernih terkait dengan uji coba kudeta yang dinyatakan gagal itu. "Semua media internasional dan intelijen-intelijen sudah tahu bahwa kudeta ini adalah mainan," kata Gulen saat diwawancarai selama 40 menit di kamp tempat ia tinggal di Kamp Golden Generation, Worship and Retreat Centre (GGWRC) di pedesaan Pensylvannia, AS, Minggu (21/8/2016).
Baca juga: Gulen dan Tuduhan di Balik Kudeta
(nvc/nwk)











































