Seperti dilansir AFP, Jumat (9/9/2016), gempa bumi itu terdeteksi di dekat lokasi uji coba nuklir Korut yang diketahui ada di Punggye-ri, saat negara tersebut merayakan Hari Pendirian yang menandai ulang tahun berdirinya negara komunis tersebut pada tahun 1948 lalu.
Otoritas Jepang dan Korsel menyebut getaran yang terdeteksi oleh badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) sebagai gempa 5,3 SR itu, memiliki kemiripan dengan uji coba nuklir yang dilakukan Korut di Punggye-ri pada 6 Januari lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada kemungkinan besar bahwa itu adalah uji coba nuklir, merujuk pada lokasi dan kekuatan gempa," timpal pejabat pemerintahan Korsel lainnya juga kepada Yonhap.
Secara terpisah, Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga menyatakan pihaknya langsung mengumpulkan informasi segera untuk soal hal tersebut. "Kami pikir memang ada kemungkinan bahwa gempa ini terjadi karena Korut melakukan uji coba nuklir," ucapnya.
Televisi nasional Jepang, NHK, melaporkan Kementerian Pertahanan Jepang bersiap mengerahkan pesawatnya untuk menganalisis sampel udara di sekitar wilayahnya demi mendeteksi radiasi. Menteri Luar Negeri Jepang Fumio Kishida bersumpah Jepang akan melontarkan protes keras jika benar Korut kembali melakukan uji coba nuklir.
"Akan melayangkan protes keras terhadap Korut dan segera melapor ke Dewan Keamanan PBB," tegasnya.
Sedangkan Pusat Jaringan Gempa Bumi China, seperti dilansir Reuters, menyebut getaran yang juga terdeteksi oleh pihaknya itu merupakan ledakan yang disengaja. Kementerian Lingkungan China mulai melakukan pemantauan radiasi di sepanjang perbatasannya dengan Korut.
(nvc/ita)











































