Angka tersebut disampaikan badan anak Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNICEF seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (7/9/2016).
Dalam analisis data globalnya, UNICEF menemukan bahwa 28 juta anak kehilangan tempat tinggal akibat kekerasan dan konflik, termasuk 10 juta anak yang menjadi pengungsi anak. Ada pula satu juta pencari suaka anak yang status pengungsinya masih dipelajari, serta sekitar 17 juta anak yang terlantar di negara mereka sendiri, tidak mendapatkan akses ke bantuan kemanusiaan dan layanan-layanan penting.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
UNICEF menyatakan, terjadi peningkatan jumlah anak-anak yang melintasi perbatasan seorang diri: lebih dari 100 ribu anak-anak tanpa disertai orang dewasa mengajukan permohonan suaka di 78 negara tahun lalu, meningkat tiga kali lipat dari tahun 2014.
Disebutkan UNICEF, perang dan konflik di dunia selama lima tahun terakhir menyebabkan jumlah pengungsi anak melonjak hingga 75 persen atau sekitar 8 juta. Dengan data tersebut, UNICEF mengingatkan bahwa para pengungsi anak-anak berisiko tinggi terhadap penyelundupan dan perdagangan manusia, serta bentuk kekerasan lainnya.
Dalam laporan terbarunya ini, UNICEF menyatakan, jumlah pengungsi anak-anak kini mencapai lebih dari setengah pengungsi di dunia, padahal jumlah anak-anak mencapai kurang dari sepertiga dari populasi dunia.
(ita/ita)










































