Presiden Karimov Meninggal, Kesedihan Mendalam Dirasakan Warga Uzbekistan

Presiden Karimov Meninggal, Kesedihan Mendalam Dirasakan Warga Uzbekistan

Rita Uli Hutapea - detikNews
Sabtu, 03 Sep 2016 16:14 WIB
Presiden Karimov Meninggal, Kesedihan Mendalam Dirasakan Warga Uzbekistan
Presiden Islam Karimov (Foto: AFP)
Tashkent, - Kesedihan mendalam dirasakan warga Uzbekistan atas kematian presiden mereka, Islam Karimov. Banyak yang tak percaya bahwa pemimpin mereka telah pergi untuk selama-lamanya.

Ribuan warga berbaris di jalanan utama di Tashkent pada Sabtu (3/9) subuh waktu setempat untuk menyaksikan iring-iringan kendaraan yang mengangkut peti jenazah Karimov. Karimov yang meninggal pada Jumat, 2 September setelah menderita stroke, akan dimakamkan di kampung halamannya di kota Samarkand, sekitar 300 kilometer barat daya ibukota Tashkent.

Pemimpin veteran itu telah memimpin Uzbekistan sejak tahun 1989. Nyaris separuh dari 32 juta warga negaranya lahir setelah dia berkuasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Banyak warga membawa bunga-bunga, kebanyakan mawar merah, yang mereka letakkan di jalanan seiring melintasnya rombongan yang akan membawa jenazah Karimov ke bandara untuk diterbangkan ke kampung halamannya.

"Apa yang akan kami lakukan tanpa Anda?" teriak seorang warga yang menangis seperti dilansir kantor berita Reuters, Sabtu (3/9/2016).

Warga Tashkent lainnya mengaku sangat kehilangan atas kepergian Karimov. "Ini minggu paling sulit dan panjang dalam hidup saya... Masih tak percaya ini terjadi. Tidak tahu apa yang terjadi sekarang, saya bingung," ujar pria berusia 39 tahun yang menolak disebutkan namanya.

Kesedihan mendalam juga dirasakan warga lainnya, Usmon, seorang guru berumur 55 tahun. "Saya sangat berduka," ujarnya.

Karimov meninggal dunia pada usia 78 tahun setelah hampir sepekan menderita stroke otak. Sebelumnya, surat kabar resmi Narodnoye Slovo memuat statamen pemerintah Uzbekistan yang menyatakan, Karimov dibawa ke rumah sakit karena stroke pada Sabtu, 27 Agustus lalu. Namun kondisinya menurun drastis dalam 24 jam terakhir dan kritis, hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir pada Jumat (2/9). (ita/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini