Setelah 10 Jam, Serangan ke Universitas Amerika di Kabul Berakhir

Setelah 10 Jam, Serangan ke Universitas Amerika di Kabul Berakhir

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 25 Agu 2016 10:29 WIB
Setelah 10 Jam, Serangan ke Universitas Amerika di Kabul Berakhir
Foto: REUTERS/Omar Sobhani
Kabul - Serangan terhadap Universitas Amerika di Kabul, Afghanistan berakhir selang 10 jam usai militan menyerbu kompleks kampus itu. Dua pelaku serangan tewas dalam baku tembak dengan polisi.

Seperti dilansir AFP, Kamis (25/8/2016), serangan ini diwarnai ledakan dan baku tembak yang menewaskan 12 orang, termasuk 7 mahasiswa. Belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini. Namun beberapa waktu terakhir militan Taliban meningkatkan serangan terhadap pemerintahan Afghanistan yang didukung negara-negara Barat.

"Kami telah mengakhiri operasi pembersihan kami. Dua pelaku dilumpuhkan," terang Kepala Departemen Investigasi Kriminal pada Kepolisian Kabul, Fraidoon Obaidi kepada AFP, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Media lokal melaporkan, ratusan mahasiswa diselamatkan sepanjang operasi pembebasan yang digelar semalaman. Banyak mahasiswa yang terjebak di dalam kampus mengirimkan pesan via Twitter untuk minta tolong. Beberapa menggunakan furnitur ruang kuliah untuk membarikade pintu dari pelaku.

Baca juga: Taliban Serang Universitas Amerika di Kabul, 5 Mahasiswa Terluka

Salah satu yang terjebak di dalam kampus ialah jurnalis foto Associated Press, Massoud Hossaini, yang akhirnya berhasil meloloskan diri dengan sejumlah mahasiswa. Hossaini mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.

Serangan dimulai pada Rabu (24/8) malam, ketika universitas swasta ini tengah dipenuhi mahasiswa. Kebanyakan dari mahasiswa di kampus ini merupakan pekerja profesional sehingga mereka mengambil kuliah malam.

Otoritas setempat enggan mengkonfirmasi apakah ada sandera yang dibawa pelaku. Tidak disebut lebih lanjut jumlah total pelaku penyerangan.

American University of Afghanistan dibuka sejak tahun 2006 dan memiliki lebih dari 1.700 mahasiswa. Kampus ini dipandang sebagai target kuat bagi militan lokal karena banyak warga asing di dalamnya. Pada 7 Agustus, dua profesor asing, dari AS dan Australia, diculik dari kendaraan mereka dan keberadaannya hingga kini belum diketahui.

(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads