Juru bicara pemerintahan militer, Kolonel Winthai Suvaree mengatakan, beberapa orang telah ditahan di fasilitas-fasilitas militer, namun belum ada yang dikenai dakwaan.
"Sejak insiden pada 11 Agustus tersebut, militer telah menggunakan Pasal 44 untuk memanggil orang-orang yang dianggap negara bisa memberikan informasi," tutur Winthai seperti dikutip kantor berita Reuters, Senin (15/8/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka dikirimkan ke berbagai kamp militer," imbuh Winthai yang menolak menyebutkan berapa jumlah orang yang ditahan. Namun kelompok-kelompok HAM mengkhawatirkan jumlahnya bisa mencapai puluhan orang. "Belum ada yang didakwa sejauh ini," tandas Winthai.
Setidaknya ada delapan ledakan bom yang mengguncang empat lokasi berbeda di Thailand pada Kamis (11/8) malam dan Jumat (12/8) pagi waktu setempat. Empat ledakan bom mengguncang Hua Hin, 200 kilometer dari ibu kota Bangkok. Dua ledakan lainnya mengguncang Pantai Patong di Phuket pada Jumat (12/8). Kemudian masing-masing satu ledakan mengguncang wilayah Surat Thani dan Trang pada Kamis (11/8).
Selain menewaskan 4 orang, serangkaian ledakan itu juga melukai 21 orang termasuk 9 turis asing. Menurut staf rumah sakit setempat, warga asing yang menjadi korban luka berasal dari beberapa negara, seperti Jerman, Italia, Belanda dan Australia.
Sejauh ini belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas rentetan ledakan bom tersebut. Kepolisian Thailand telah menyatakan tak ada kaitan terorisme dengan serangan-serangan bom tersebut. Kepolisian Thailand juga menyatakan, pihaknya tidak menemukan bukti yang menunjukkan ledakan-ledakan itu terkoordinasi maupun terkait dengan kelompok pemberontak di Thailand selatan, yang ditinggali mayoritas warga muslim. (ita/ita)











































