Staf Mogok Kerja 5 Hari, Pengguna Kereta Komuter Inggris Terancam Telantar

Staf Mogok Kerja 5 Hari, Pengguna Kereta Komuter Inggris Terancam Telantar

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 08 Agu 2016 16:57 WIB
Staf Mogok Kerja 5 Hari, Pengguna Kereta Komuter Inggris Terancam Telantar
Ilustrasi (REUTERS/Phil Noble)
London - Ratusan ribu warga pengguna kereta komuter London dan Inggris bagian selatan terancam telantar. Hal ini karena para pegawai layanan kereta api Inggris menggelar aksi mogok kerja selama 5 hari.

Seperti dilansir Reuters, Senin (8/8/2016), Southern yang mengelola layanan kereta dari Brighton dan bandara Gatwick, menyatakan hanya 60 persen layanan kereta yang beroperasi sepanjang lima hari aksi mogok digelar. Aksi ini disebut sebagai aksi mogok kerja pegawai layanan kereta api Inggris terlama dalam 50 tahun terakhir.

Selama aksi itu digelar, tidak akan ada rangkaian kereta dengan rute yang sama yang akan beroperasi. Aksi mogok kerja ini dipicu oleh pertikaian soal peran kondektur kereta, yang memiliki tanggung jawab untuk membuka dan menutup pintu kereta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Pria Penikam yang Tewaskan Turis AS di London Diadili

Dituturkan serikat pekerja RMT, serikat pekerja nasional untuk sektor transportasi di Inggris, Southern ingin memperluas operasional kereta yang hanya membutuhkan masinis saja. Hal itu akan berdampak pada pengurangan peran kondektur kereta.

Glovia Thameslink Railway (GTR), operator kereta api terbesar di Inggris yang merupakan induk perusahaan Southern, menyatakan perubahan itu akan memicu berkurangnya pembatalan jadwal kereta, karena tidak diperlukan lagi masinis bersama-sama dengan kondektur.

"Perjuangan kami bersama perusahaan dan pemerintah yang membuat hal ini berlarut-larut. Kami merasakan kemarahan dan frustrasi penumpang dan kami tidak bisa diam saja sementara pekerjaan dan keselamatan menjadi kompromi dalam kereta penuh sesak yang berbahaya ini," tegas Sekjen RMT, Mick Cash.

Baca juga: Blokir Jalan ke Bandara London, 10 Demonstran Black Lives Matter Ditangkap

Saat mediasi pekan lalu, RMT mengaku telah menawarkan kepada GTR bahwa aksi mogok akan dihentikan, jika disepakati adanya staf kedua di dalam kereta yang hanya membutuhkan masinis. Namun perundingan itu berujung gagal.

Direktur Eksekutif GTR, Charles Horton, menyatakan perubahan itu akan meningkatkan layanan untuk para penumpang dan dia memberikan jaminan untuk peran kondektur di masa mendatang. Namun RMT menolak untuk berunding dengan GTR soal hal itu. "Serikat RMT mengecewakan semua orang dan aksi yang mereka lakukan pekan ini sungguh tidak perlu, tidak bisa diterima dan tidak dibenarkan," terangnya kepada radio BBC.

Aksi mogok kerja ini semakin membuat menderita pengguna komuter di Inggris. Dalam beberapa bulan terakhir, pengguna komuter harus mengalami penundaan dan pembatalan jadwal kereta karena sejumlah staf senior mengalami sakit. Kemudian pada Juli lalu, Southern memangkas 341 layanan kereta komuter, dengan alasan lebih fokus pada layanan kereta reguler.

(nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads