"Aksi teroris pengecut ini ditolak oleh Islam yang mengharuskan perlindungan tempat-tempat ibadah dan melarang pelanggaran kesucian tempat-tempat ibadah," demikian statemen otoritas Saudi yang dirilis kantor berita resmi SPA seperti dilansir AFP, Rabu (27/7/2016).
Dalam serangan di gereja di kota Saint-Etienne-du-Rouvray, Normandy, Prancis pada Selasa, 26 Juli waktu setempat, dua pelaku mendatangi gereja Katolik tersebut saat berlangsung misa pagi. Pelaku sempat melakukan penyanderaan sebelum menggorok leher seorang pastur berumur 86 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain Arab Saudi, Uni Emirat Arab juga mengecam keras serangan di gereja Prancis itu. Disebutkan bahwa serangan itu hanya dimaksudkan "menyebar perpecahan dan membakar kebencian."
"Kejahatan mengejutkan ini menunjukkan rendahnya para pelaku dan mereka yang ada di belakangnya," demikian pernyataan resmi Uni Emirat Arab seraya menyerukan "negara-negara di dunia untuk bekerja dengan tegas dan tanpa ragu guna menghadapi terorisme dalam semua bentuknya."
Pernyataan kecaman senada atas serangan di gereja Prancis itu, juga disampaikan oleh pemerintah Bahrain, Kuwait dan Qatar.
(ita/ita)











































