Pelaut Makassar dan Sistem Ekonomi Baru bagi Aborigin di Australia Utara

Jelajah Australia 2016

Pelaut Makassar dan Sistem Ekonomi Baru bagi Aborigin di Australia Utara

Ikhwanul Khabibi - detikNews
Selasa, 26 Jul 2016 11:18 WIB
Pelaut Makassar dan Sistem Ekonomi Baru bagi Aborigin di Australia Utara
Foto: Macassan Beach yang disebut sebagai titik pertama kapal pinisi yang membawa pelaut dan saudagar Makassar bersandar (Foto: Ikhwanul Khabibi/detikcom)
Darwin - Pelaut Makassar masyhur namanya di kalangan Aborigin dari Suku Yolngu yang tinggal di pantai utara Australia. Pelaut Makassar mendatangkan dampak positif dan relasi saling menguntungkan Aborigin saat itu.

Pelaut dan saudagar dari Makassar yang oleh Suku Yolngu disebut 'Macassan' datang ke pantai utara Autralia sekitar tahun 1760 atau 1770-an. Mereka datang menaiki kapal pinisi dan mendarat di sebuah daerah di Gove, Northern Territory yang saat ini diberi nama Macassan Beach.

Macassan Beach yang disebut sebagai titik pertama kapal pinisi yang membawa pelaut dan saudagar Makassar bersandar (Foto: Ikhwanul Khabibi/detikcom)


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menempuh perjalanan sejauh ratusan kilometer dari pulau Sulawesi, para pelaut tangguh itu melintasi Samudera Hindia datang ke Australia untuk mencari hasil alam yang sangat laku di pasaran saat itu, yakni teripang. Di perairan utara Autralia yang berbatasan langsung dengan Laut Arafuru, dikenal dengan perairan yang menghasilkan banyak teripang.

Saat pelaut dari Makassar datang, warga Aborigin saat itu masih hidup sangat apa adanya, nomaden, bahkan belum mengenal senjata tajam dari logam. Teripang yang mereka dapat dari laut pun sebelumnya hanya untuk kebutuhan makanan sehari-hari saja. Kala itu, Suku Yolngu belum tahu sistem jual beli.



"Macassan datang untuk berdagang, bukan menjajah. Mereka membawa banyak barang di kapal mereka untuk ditukarkan dengan teripang," kata Richard Trudgen, seorang relawan pendiri Why Warriors, LSM yang fokus bergerak untuk meningkatkan taraf hidup Aborigin saat diwawancarai detikcom dan 2 media lain yang difasilitasi Australia Plus ABC International di rumahnya di Gove, Northern Territory pada Mei 2016 lalu.

Tujuan utama kedatangan para pelaut dan saudagar Makassar murni untuk mencari teripang. Mereka membeli teripang dari masyarakat setempat dengan cara menukarkan dengan beras, tembakau, senjata tajam dan lainnya. Tidak ada niatan sama sekali untuk menguasai.

Richard Trudgen, pendiri LSM Why Warriors (Foto: Ikhwanul Khabibi/detikcom)


"Macassan bekerja sama dengan Yolngu. Mereka membeli teripang, kemudian mengolahnya untuk dibawa pulang. Macassan mengenalkan cara perdagangan kepada Yolngu," jelas Richard.

Hubungan perdagangan antara Makassar dan Yolngu berjalan cukup lama, sekitar 150 tahun. Selama kurun waktu itu, saudagar Makassar mengajarkan beberapa hal ke warga Aborigin, salah satunya tentang sistem ekonomi.

Transaksi perdagangan antara saudagar Makassar dan suku Yolngu berjalan begitu masif. Sekali sandar, para pelaut dan saudagar asal Sulawesi Selatan itu bisa berada di Australia sampai 6 bulan lamanya.

Macassan Beach yang disebut sebagai titik pertama kapal pinisi yang membawa pelaut dan saudagar Makassar bersandar (Foto: Ikhwanul Khabibi/detikcom)


Mereka kemudian memiliki tempat untuk bertransaksi, untuk mengolah teripang hingga menjadi teripang kering dan tempat tinggal untuk bersosialisasi dengan warga. Suatu pantai di Gove yang kini disebut Galupa bahkan menjadi 'diplomatic area' para saudagar kala itu.

Macassan Beach yang disebut sebagai titik pertama kapal pinisi yang membawa pelaut dan saudagar Makassar bersandar (Foto: Ikhwanul Khabibi/detikcom)


"Galupa adalah diplomatic area, mereka membicarakan dan bersepakat tentang harga teripang dan jumlah tukarnya. Selain itu, pemilik lahan (petinggi Yolngu) juga menyepakati jumlah bagi hasil dengan para pekerja," ujar Gayili Marika, warga Suku Yolngu yang tinggal di sekitar Pantai Galupa.

Gayili dan keluarga besarnya adalah satu-satunya kelompok dari Suku Yolngu yang tinggal di Pantai Galupa saat ini. Mereka tidak mau pindah dari tempat yang dahulunya menjadi tempat berdiplomasi itu.

"Kami tak akan pernah pergi dari sini," kata Gayili Marika, tokoh perempuan Suku Yolngu yang tinggal di Pantai Galupa (Foto: Ikhwanul Khabibi/detikcom)


"Dulu kakek buyut kami hidup bersama orang Macassan di sini. Mereka berpesta dan menghisap tembakau bersama. Ini rumah kami, kami tak akan pernah pergi dari sini," tegas Gayili.

Sementara itu, menurut Will Stubbs dari Buku Larrngay Mulka, galeri seni Yolngu di Yirrkala, Northern Territory, jejak-jejak perekonomian pelaut dan saudagar Makassar sangat jelas terlihat dari berbagai karya seni yang dihasilkan Suku Yolngu. Masyarakat Aborigin menggambarkan bagaimana kegiatan perdagangan dengan Macassan melalui lukisan dan berbagai karya seninya.

Warga Aborigin Suku Yolngu mengabadikan kenangan tentang pelaut Makassar dalam karya seni (Foto: Ikhwanul Khabibi/detikcom)


Aborigin ingat betul saat pelaut dan saudagar Makassar datang menaiki perahu pinisi. Mereka kemudian dikenalkan dengan senjata tajam dari logam yang mengubah cara hidup mereka kala itu.

"Dari berbagai gambaran, warga Yolngu juga bisa mengenal kapal cadik kecil untuk mencari teripang karena peran Macassan," ungkap Will.

Putra Richard, Kendall Trudgen yang juga bekerja untuk peningkatan taraf hidup warga Aborigin mengungkapkan salah satu hal penting yang diajarkan saudagar Makassar ke Aborigin adalah pemasangan bendera sebagai penanda teritori. Makassar memberikan bendera dengan warna yang berbeda-beda untuk menandai wilayah kekuasaan masing-masing klan di suku Yolngu.

Will Stubbs (kanan) koordinator galeri seni Suku Yolngu, Buku Larrngay Mulka, di Yirrkala (Foto: Ikhwanul Khabibi/detikcom)


"Bendera ini akhirnya sangat berguna untuk legalitas wilayah masing-masing klan. Sehingga kemudian bisa menentukan wilayah laut yang memiliki banyak teripang menjadi hak klan mana," urai Kendall.

Baca terus fokus "Jelajah Australia 2016" dan ikuti Hidden Quiz-nya!
(nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads