Al Baldasaro yang menjadi perwakilan negara bagian New Hampshire dalam Konvensi Nasional Partai Republik (RNC), merupakan penasihat informal Trump untuk urusan veteran perang. Pernyataan kontroversial Baldasaro itu dilontarkan dalam wawancara dengan penyiar radio konservatif, Jeffrey Kuhner.
"Hillary Clinton seharusnya ditempatkan di depan regu tembak dan ditembak atas pengkhianatan," seru Baldasaro dalam wawancara yang dilakukan Selasa (19/7) dan dilansir AFP, Kamis (21/7/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan Baldasaro itu menyangkut cara Hillary, yang saat itu menjabat Menteri Luar Negeri AS, menangani serangan teror terhadap misi diplomatik AS di Benghazi, Libya yang menewaskan 4 warga AS tahun 2012 lalu. Baldasaro yang seorang purnawirawan Marinir AS ini, merupakan veteran Perang Teluk dan pernah berbicara di depan pendukung Trump saat kampanye.
"Semua hal ini membuat saya jijik," sebut Baldasaro yang memang dikenal terang-terangan.
Dalam pernyataan terpisah, juru bicara Secret Service Robert Hoback menuturkan kepada AFP, pernyataan kontroversial itu akan diselidiki oleh pihaknya. "Kami menyadari persoalan ini dan akan melakukan penyelidikan yang semestinya," ucapnya.
Baca juga: Resmi Jadi Capres AS, Donald Trump Bangga dan Yakin Akan Menang
Sementara itu, tim kampanye Trump terkesan menjauhkan diri dari pernyataan Baldasdaro itu. "Kami tidak sepakat (dengan pernyataannya)," ujar juru bicara tim kampanye Trump, Hope Hicks, dalam pernyataan singkat.
Tim kampanye Hillary menanggapi pernyataan itu dengan tegas. "Donald Trump membawa Partai Republik -- dan perluasan retorika kasarnya -- ke dalam bahaya memunculkan kebencian semacam ini yang sejak lama terpinggirkan dalam politik Amerika. Pekan ini di konvensi Partai Republik, kita melihat perwujudan paling jelas dari fenomena berbahaya ini," tegas Direktur Komunikasi Tim Kampanye Hillary, Jennifer Palmieri, kepada CNN.
(nvc/ita)











































