"Orang yang melakukan operasi di Nice, Prancis, untuk melindas orang-orang tersebut adalah salah satu prajurit ISIS," demikian disampaikan kantor berita Amaq, yang mendukung ISIS.
"Dia melakukan operasi tersebut sebagai respons atas seruan untuk menargetkan warga dari negara-negara yang merupakan bagian dari koalisi yang memerangi ISIS," demikian disampaikan Amaq lewat akun Telegram seperti dilansir kantor berita Reuters, Sabtu (16/7/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyerang yang kemudian ditembak mati aparat itu, diketahui sebagai warga Perancis keturunan Tunisia berusia 31 tahun yang tinggal di Nice.
Saat kejadian, pengemudi truk mempercepat laju kendaraan dan menabrak kerumunan massa di kota Nice, yang sedang menikmati perayaan Hari Bastille atau dikenal sebagai hari kemerdekaan Prancis. Beberapa polisi juga mendapati bahan peledak, granat dan senjata api lain di bagian belakang truk.
Presiden Prancis Francois Hollande menyatakan keadaan darurat di Prancis β yang dijadwalkan akan berakhir akhir Juli ini -- akan diperpanjang selama tiga bulan lagi dan sekitar 10 ribu pasukan militer tambahan akan dipertahankan beroperasi pasca serangan di Nice. Ia juga menegaskan Prancis akan memperkuat perannya di Suriah dan Irak. (ita/ita)











































