Ketika Kendaraan Dijadikan Senjata Serangan Teror

Horor Truk Pembunuh Massal

Ketika Kendaraan Dijadikan Senjata Serangan Teror

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 15 Jul 2016 13:30 WIB
Ketika Kendaraan Dijadikan Senjata Serangan Teror
Kaca depan truk putih dipenuhi lubang bekas peluru (REUTERS/Eric Gaillard)
Paris - Mengubah sebuah kendaraan menjadi senjata teror mematikan terjadi di Nice, Prancis bagian tenggara. Taktik semacam ini sudah lama dikenal badan-badan intelijen dunia.

Pada Kamis (14/7) malam, sebuah truk besar berwarna putih seberat 19 ton (sebelumnya disebut 25 ton) terus melaju sejauh 2 kilometer sambil menabrak kerumunan orang. Teror truk ini terjadi saat warga Nice asyik merayakan Bastille Day atau hari kemerdekaan Prancis yang jatuh 14 Juli.

REUTERS/Eric Gaillard

Teror itu menewaskan sedikitnya 80 nyawa dan melukai sejumlah orang lainnya. Pengemudi truk akhirnya tewas ditembak polisi yang terus menembaki truk itu untuk menghentikannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti dilansir AFP, Jumat (15/7/2016), otoritas negara-negara Barat menghadapi tiga serangan serupa dalam beberapa tahun terakhir. Dua serangan terjadi di Inggris dan satu serangan lainnya di Kanada.

Baca juga: Dunia Kecam Teror Truk Pembunuh Massal di Nice

Pada Mei 2013, dua militan menabrakkan mobil mereka ke arah tentara Inggris, Lee Rigby. Kedua militan itu kemudian berusaha memengal Rigby di tengah jalanan London, pada siang bolong. Kedua militan yang merupakan warga keturunan Nigeria itu, mengaku menyerang tentara berusia 25 tahun itu untuk membalas kematian warga muslim di tangan tentara Inggris.

Selang 18 bulan kemudian, seorang pria yang mengaku melakukan jihad radikal, mengemudikan mobilnya ke arah tentara Kanada bernama Patrice Vincent dan menewaskannya. Insiden itu juga melukai satu pria lainnya. Tak lama kemudian, seorang pria berusia 25 tahun bernama Martin Couture-Rouleau menelepon layanan darurat polisi untuk menyatakan serangannya itu sebagai jihad.

Petugas forensik menyisir lokasi teror truk (REUTERS/Eric Gaillard)

Kemudian pada Juni 2007, dua pria yang mengemudikan mobil jeep yang terbakar, mengarahkan kendaraannya ke gedung terminal utama Bandara Glasgow, Skotlandia. Salah satu pria dalam insiden itu divonis penjara seumur hidup dan disebut sebagai 'ekstremis beragama' oleh hakim dalam persidangan.

Selama beberapa tahun, militan radikal seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dan Al-Qaeda menjaring pengikut via video atau pesan dengan menyerukan serangan teror dengan menggunakan 'senjata' apapun yang ada.

Baca juga: Identitas Pengemudi Truk yang Tewaskan 80 Orang di Nice Masih Belum Jelas

Pada September 2014, juru bicara ISIS Abu Mohammed al-Adnani yang disebut oleh badan intelijen Barat sebagai 'Menteri Serangan ISIS' merilis instruksi mengerikan soal bentuk-bentuk serangan yang bisa dilakukan para pengikut ISIS.

"Jika kalian tidak bisa meledakkan bom atau menembakkan peluru, atur pertemuan dengan orang kafir dari Prancis atau Amerika dan hancurkan tengkoraknya dengan batu, bantai dengan pisau, tabrak dengan mobil, lemparkan dari tebing, cekik dia, atau suntik dengan racun," demikian seruan Adnani saat itu.

Adnani menyebut, tidak perlu berkonsultasi dengan siapapun untuk melakukan serangan, karena seluruh orang kafir bisa menjadi target. "Tidak menjadi penting apakah orang kafir itu militer atau warga sipil... Mereka sama-sama musuh. Darah mereka diizinkan," tutupnya.

(nvc/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads