Dalam insiden penembakan yang terjadi pada Kamis (7/7) malam, seperti dilansir AFP, Sabtu (9/7/2016), kepolisian Dallas awalnya mengumumkan perburuan seorang tersangka bernama Mark Hughes yang mengenakan pakaian kamuflase ala militer.
"Ini dia salah satu tersangka. Tolong bantu kami mencarinya!" demikian tulis kepolisian Dallas sambil mengunggah foto seorang pria menenteng senapan serbu jenis AR-15.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, Hughes sedang ikut dalam unjuk rasa memprotes kebrutalan polisi terhadap warga kulit hitam AS. Kebetulan Hughes membawa serta senjata api yang didapatnya secara legal di bawah hukum yang berlaku di Texas.
"Saya tidak menyadari bahwa saya menjadi tersangka. Suara tembakan terdengar. Kami berlari," tutur Hughes kepada MSNBC.
"Beberapa jam kemudian, setelah saya menyerahkan senjata saya, saya menerima telepon bahwa saya sekarang tersangka... Saya tidak mengerti bagaimana saya bisa menjadi tersangka," imbuhnya.
Baca juga: Kota New York Tingkatkan Keamanan Usai 5 Polisi Dallas Tewas Ditembak
Hughes kemudian menyerahkan diri kepada polisi setempat. Dia sempat diinterogasi, sebelum akhirnya dilepaskan.
Ketika ditanya mengapa dia membawa senjata api miliknya saat ikut unjuk rasa, Hughes menyebut dirinya hanya menjalankan hak Amandemen Kedua, yang mengatur soal hak konstitusional setiap warga negara untuk mendapat perlindungan dengan membawa senjata api.
Tweet dari kepolisian Dallas soal Hughes itu, telah di-retweet puluhan ribu kali dan masih bisa dibaca di akun Twitter @DallasPD hingga Jumat (8/7) waktu setempat, sebelum akhirnya dihapus.
Baca juga: Eks Tentara AS Bunuh 5 Polisi Dallas, Petugas Temukan Bahan Bom di Rumahnya
Pelaku penembak lima polisi Dallas diidentifikasi sebagai Micah Xavier Johnson (25), eks tentara AS yang pernah ditugaskan ke Afghanistan. Motif penembakan itu disebut karena Johnson ingin membalas kebrutalan polisi terhadap dua warga kulit hitam di Minnesota dan Louisiana.
(nvc/bag)











































