"Pelaku menembaki semua orang yang ada di hadapannya. Pelaku mengenakan pakaian serba hitam. Wajah pelaku tidak ditutup masker. Saya berada di jarak 50 meter dari pelaku," tutur salah satu saksi mata, Paul Roos (77), yang ada di lokasi saat kejadian, seperti dilansir Reuters, Rabu (29/6/2016).
Roos yang warga Afrika Selatan ini hendak pulang ke Cape Town, bersama istrinya usai berlibur di Turki. Roos tidak menyebut lebih lanjut kondisi dirinya dan sang istri usai teror mematikan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pelaku berbalik dan mulai mendekati kami. Pelaku memegang senjata di dalam jaketnya. Pelaku melihat sekeliling dengan cemas untuk melihat apakah ada seseorang yang akan menghentikannya dan kemudian dia turun dengan eskalator ... Kami mendengar suara tembakan dan kemudian satu suara ledakan, dan kemudian semuanya berakhir," imbuh Roos.
Perdana Menteri Turki Binali Yildrim dan Gubernur Istanbul Vasip Sahin meyakini ada tiga pelaku bom bunuh diri, berdasarkan keterangan saksi mata. Yildrim menuding Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) bertanggung jawab atas serangan teror ini.
Yildrim menyebut, para pelaku tiba di bandara dengan taksi dan kemudian menembaki para penumpang secara acak dengan senapan otomatis, sebelum meledakkan diri. Rekaman kamera CCTV yang beredar di media sosial menunjukkan dua dari tiga ledakan yang terjadi. Salah satu ledakan terjadi di dekat pintu masuk gedung terminal, membuat penumpang panik dan berlarian.
Rekaman video lainnya menunjukkan satu pelaku yang berpakaian serba hitam, berlari ke dalam gedung sebelum roboh ke lantai, diduga terkena peluru polisi. Usai terjatuh, pelaku terlihat meledakkan diri.
(nvc/ita)











































