PM Turki Tuding ISIS Dalangi 3 Bom Bunuh Diri di Bandara Istanbul

PM Turki Tuding ISIS Dalangi 3 Bom Bunuh Diri di Bandara Istanbul

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 29 Jun 2016 08:55 WIB
PM Turki Tuding ISIS Dalangi 3 Bom Bunuh Diri di Bandara Istanbul
Polisi berjaga di Bandara Ataturk, Turki (REUTERS/Murad Sezer)
Istanbul - Tiga ledakan bom bunuh diri dan serangan bersenjata mengguncang bandara Ataturk di Istanbul, Turki hingga menewaskan 36 orang. Perdana Menteri Turki Binali Yildrim menuding militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) berada di balik teror ini.

Disampaikan otoritas Turki, seperti dilansir AFP, Rabu (29/6/2016), para pelaku melepas tembakan secara membabi-buta di area pintu masuk terminal internasional bandara Ataturk, sebelum meledakkan diri pada Selasa (28/6) pukul 22.00 waktu setempat.

Baca juga: Pengebom Bunuh Diri di Bandara Turki Tiga Orang, 36 Orang Tewas

Serangan ini merupakan yang paling mematikan dari empat serangan teror yang melanda Turki sepanjang tahun ini. Dua serangan teror sebelumnya didalangi ISIS, sedangkan satu teror lainnya didalangi militan Kurdi. Untuk serangan teror pekan ini, belum ada pihak maupun kelompok tertentu yang mengklaim bertanggung jawab.

"Bukti-bukti mengarahkan pada Daesh," sebut PM Yildrim merujuk pada nama Arab untuk ISIS, saat berbicara kepada wartawan setempat di lokasi kejadian.

"Menjadi jelas dengan adanya insiden ini bahwa terorisme adalah ancaman global. Serangan ini, menargetkan orang-orang tak bersalah adalah aksi teroris terencana yang keji," imbuhnya.

Baca juga: KJRI Istanbul: Belum Ada Laporan WNI Menjadi Korban Ledakan di Turki

Ledakan bom bunuh diri itu sejauh ini merenggut 36 nyawa, dengan beberapa di antaranya warga negara asing. Namun otoritas Turki belum menyebut jumlah warga asing yang menjadi korban.

Serangan bom ini memicu penundaan seluruh penerbangan di bandara Ataturk, yang merupakan salah satu bandara tersibuk di daratan Eropa. Presiden Recep Tayyip Erdogan menyerukan perang bersama secara internasional untuk melawan teror.

(nvc/ita)


Berita Terkait