Dalam laporan terbarunya, seperti dilansir AFP, Selasa (28/6/2016), Amnesty International mewawancarai 100 wanita yang mengalami kekerasan saat ditangkap polisi dan tentara Meksiko. Seluruh wanita itu menjelaskan bagaimana mereka menjadi korban pelecehan seksual juga penganiayaan psikologi.
Sedikitnya 7 dari 10 wanita mengaku mengalami kekerasan seksual selama ditangkap atau beberapa jam setelah ditangkap. Jenis perlakuan kasar terhadap wanita termasuk tonjokan di perut dan kepala, ancaman pemerkosaan, pencekikan, penyetruman di bagian kelamin, meraba dan pemerkosaan itu sendiri. Ancaman pemerkosaan juga ditujukan kepada keluarga wanita yang ditangkap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Wanita yang menjadi korban kekerasan semacam itu, kebanyakan berusia muda dan berasal dari latar belakang pendapatan rendah. Praktik diskriminasi yang dialami wanita-wanita ini karena jenis kelamin mereka, usia mereka dan situasi sosial ekonomi mereka, meningkatkan risiko penangkapan sewenang-wenang dan penyiksaan," imbuh pernyataan itu.
Laporan Amnesty International juga menyebutkan bahwa sebagian besar wanita yang ditangkap dan dipenjara itu adalah orangtua tunggal. Mereka menghadapi diskriminasi karena dianggap tidak memuaskan harapan masyarakat, yakni memiliki pasangan laki-laki.
Para pekerja seks komersial di Meksiko juga seringkali menjadi korban penyiksaan selama penangkapan, atau saat dalam penahanan. Tidak hanya itu, laporan Amnesty International juga menyebut, wanita yang memiliki orientasi seksual biseksual atau lesbian juga banyak menjadi korban penyiksaan.
(nvc/ita)










































