Pertemuan 15 negara anggota DK PBB itu diadakan atas permintaan Amerika Serikat dan Jepang.
"Kami meminta pertemuan ini bersama dengan Jepang dikarenakan pola pembangkangan komunitas internasional yang ditunjukkan oleh DPRK," ujar Duta Besar (Dubes) untuk PBB Samantha Power seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (23/6/2016). DPRK merupakan singkatan dari nama resmi Korut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satu rudal dilaporkan gagal mengudara, sedangkan satu rudal lainnya berhasil mengudara sejauh 400 kilometer. Namun pemimpin Korut Kim Jong Un mengklaim peluncuran dua rudal balistik itu berlangsung sukses. Kim juga menyebut rudal itu mampu mencapai pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Samudera Pasifik.
"Kami memiliki kemampuan meyakinkan untuk menyerang secara keseluruhan maupun secara praktis, kawasan operasi Amerika di Pasifik," sebut Kim dalam pernyataannya, seperti dilansir PressTV, Kamis (23/6/2016).
Sejumlah sumber militer AS dan Korsel membenarkan adanya peluncuran rudal oleh Korut, namun mereka meragukan peluncuran itu sukses. Di sisi lain, peluncuran rudal Korut memicu kritikan dari dunia internasional. Sekjen PBB Ban Ki Moon menyebut aktivitas Korut itu sebagai tindakan tidak bertanggung jawab dan tidak tahu malu.
"Aktivitas DPRK (Korut) mengejar senjata nuklir dan rudal balistik hanya akan mengganggu keamanan dan membuatnya gagal meningkatkan taraf kehidupan warganya," sebut Ban melalui juru bicaranya Farhan Haq.
(ita/ita)











































