Disampaikan organisasi pemantau konflik Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, seperti dilansir Reuters, Senin (20/6/2016), warga Suriah yang masih satu keluarga itu, berusaha melintasi perbatasan Turki dengan Suriah pada Minggu (19/6) pagi. Mereka berasal dari desa perbatasan Khirbet al Jouz.
Baca juga: Pengadilan Turki Jatuhkan Vonis 120 Tahun Penjara untuk 3 Anggota ISIS
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Observatory menyebut, jumlah korban tewas dalam penembakan di perbatasan Turki-Suriah pada Minggu (19/6) merupakan jumlah terbanyak sejauh ini. Observatory juga menyebut, empat korban tewas di antaranya merupakan anak-anak dan delapan warga Suriah lainnya luka-luka dalam insiden yang sama.
Kelompok yang sejak lama memantau konflik Suriah ini menyebut, pihaknya telah mendokumentasikan kematian nyaris 60 warga sipil yang berusaha kabur dari konflik Suriah, sejak awal tahun ini. Kebanyakan insiden melibatkan penembakan oleh tentara perbatasan Turki, negara tetangga Suriah.
Baca juga: Arab Saudi Kembali Desak AS Gempur Rezim Assad di Suriah
Menanggapi laporan Observatory ini, sumber dari militer Turki menyangkalnya. "Klaim bahwa tentara Turki menewaskan 9 orang yang berusaha menyeberang perbatasan di Provinsi Hatay ... adalah tidak benar. Semalam ada upaya melintasi perbatasan secara ilegal, tapi tidak ada tembakan yang dilepaskan secara langsung kepada orang-orang itu," tegas sumber militer Turki.
"Setelah tembakan peringatan, rombongan tujuh hingga delapan orang berlari ke hutan," imbuh sumber itu.
Otoritas Turki telah menutup sebagian besar perlintasan perbatasannya untuk pengungsi Suriah. Namun sekitar 2,7 juta pengungsi Suriah yang terdaftar kini hidup di Turki, dengan 280 ribu pengungsi di antaranya hidup di kamp penampungan.
(nvc/ita)










































