Seperti dilansir Reuters, Jumat (17/6/2016), memo berjudul 'kawat penolakan' itu ditandatangani oleh 51 pejabat level menengah hingga tingkat tinggi Departemen Luar Negeri AS, yang terlibat sebagai penasihat kebijakan untuk Suriah. Hal ini pertama kali dilaporkan oleh media AS, The Wall Street Journal (WSJ).
Baca juga: Targetkan ISIS, Serangan Udara Koalisi AS Tewaskan 30 Warga Sipil Suriah
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disampaikan salah satu pejabat AS yang tidak ikut menandatangani memo itu namun telah membacanya, kepada Reuters, bahwa Gedung Putih tetap dalam posisi menentang keterlibatan militer AS lebih mendalam pada konflik Suriah. Menurut pejabat yang enggan disebut namanya itu, memo internal itu kemungkinan besar tidak akan banyak berpengaruh, terlebih lagi mengubah kebijakan pemerintahan Obama di Suriah.
Sumber kedua yang juga telah membaca memo itu, menyebut isi memo internal itu mencerminkan pandangan sejumlah pejabat AS yang selama ini bekerja pada isu Suriah dan meyakini kebijakan saat ini tidak efektif. "Pada dasarnya, kelompok ini ingin melihat opsi militer diambil untuk memberikan tekanan ... pada rezim (Assad di Suriah)," ucap sumber kedua yang enggan menyebut namanya.
Baca juga: Direktur CIA Ingatkan ISIS Rencanakan Serangan Berikutnya di Barat
Keberadaan 'kawat penolakan' semacam ini bukan hal yang tidak biasa. Namun jumlah pejabat yang menandatangani memo internal kali ini cukup besar.
"Kami menyadari keberadaan kawat penolakan yang ditulis oleh sekelompok pegawai Departemen Luar Negeri (AS) terkait situasi di Suriah. Kami tengah mengkajinya sekarang, yang muncul baru-baru ini, dan saya tidak akan mengomentari isinya," ucap juru bicara Departemen Luar Negeri AS, John Kirby, menanggapi memo ini.
Kirby menambahkan, kawat penolakan semacam ini merupakan forum resmi yang mengizinkan pegawai Departemen Luar Negeri untuk menyampaikan pandangan alternatif.
(nvc/ita)











































