"Awalnya dia pria normal yang perhatian pada keluarga, suka bercanda," tutur Yusifiy mengenai Mateen, yang dikenalnya lewat internet. Mateen menikahi Yusifiy pada tahun 2009 dan pernikahan itu hanya berlangsung selama empat bulan, setelah keluarga Yusifiy datang untuk menyelamatkan wanita itu dari 'sekapan' suaminya.
"Beberapa bulan setelah kami menikah, saya melihat ketidakstabilannya, saya melihat dia berkepribadian ganda, dan dia akan marah kepada saya di mana saja, dan saat itulah saya mulai khawatir akan keselamatan saya," ujar imigran asal Uzbekistan itu seperti dilansir The Guardian, Senin (13/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Yusifiy, keluarganya datang untuk menyelamatkannya dari Mateen "dan harus menarik saya dari tangannya".
Yusifiy mengatakan, dirinya melihat tanda-tanda "ketidakstabilan emosional" pada mantan suaminya itu. "Dia tidak stabil secara mental dan sakit jiwa dan jelas sekali sangat terganggu dan mengalami trauma," tutur wanita itu.
Menurut Yusifiy, mantan suaminya yang kerap berfoto dengan menggunakan baju kepolisian New York (NYPD) itu, berkeinginan menjadi polisi. Dia berteman dengan beberapa polisi dan pernah bekerja di sebuah penjara khusus anak-anak.
Mateen tewas dalam baku tembak dengan polisi usai melancarkan aksi penembakannya di sebuah klub malam khusus gay di Orlando pada Minggu (12/6) dini hari waktu setempat. Peristiwa ini disebut sebagai penembakan massal terburuk dalam sejarah AS. Presiden AS Barack Obama menyebut aksi penembakan ini sebagai teror.
"Kita sekarang cukup untuk menyatakan ini sebagai aksi teror dan aksi kebencian," kata Obama dalam pernyataannya di Gedung Putih pada Minggu sore waktu setempat dan dikutip detikcom dari CNN Senin (13/6/2016).
"Ini merupakan hari menyedihkan untuk kawan-kawan kita yang LGBT," ucap Obama.
(ita/ita)











































