Berbuka Bersama dengan Tokoh Lintas Agama untuk Dekatkan Islam di Victoria

Jelajah Australia 2016

Berbuka Bersama dengan Tokoh Lintas Agama untuk Dekatkan Islam di Victoria

Ikhwanul Khabibi - detikNews
Senin, 13 Jun 2016 10:14 WIB
Berbuka Bersama dengan Tokoh Lintas Agama untuk Dekatkan Islam di Victoria
Buka puasa lintas agama di Deakin University (Foto: Ikhwanul Khabibi/detikcom)
Melbourne - Islam mulai diterima di kalangan masyarakat Australia. Meskipun demikian, masih ada saja yang salah persepsi dengan Islam.

Pemberitaan beberapa media Australia sedikit banyak mempengaruhi persepsi masyarakat Australia terhadap Islam. Apalagi, pemberitaan yang ditonjolkan banyak menyangkut kegiatan para ekstremis, yang mana sama sekali tidak terafiliasi dengan Islam secara agama.

Para petinggi Deakin University di Victoria, Australia lalu membuat gagasan untuk lebih mendekatkan Islam dengan masyarakat. Landasan utamanya hanya satu, selama ini masyarakat Australia sering salah persepsi tentang Islam karena tidak mengenal Islam dengan baik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Oleh karena itu, Vice Chancellor (Wakil Rektor) Deakin University, Professor Jane Den Hollander bersama para koleganya menggagas suatu gerakan untuk lebih mendekatkan Islam ke masyarakat dan kepada pemeluk agama lain. Hingga akhirnya, lahirlah sebuah kegiatan buka puasa bersama masyarakat dan tokoh lintas agama di Victoria.

Suasana buka puasa (Foto: Ikhwanul Khabibi/detikcom)


detikcom yang tengah berada di Melbourne pada Juni 2016 bersama dua media lain yang difasilitasi Australia Plus ABC International berkesempatan mengikuti kegiatan buka bersama dengan konsep yang cukup unik itu. Kegiatan buka bersama digelar di Kampus Deakin University, 1 jam perjalanan dari pusat kota Melbourne.

Kegiatan tersebut digelar di salah satu aula kampus yang letaknya bersebelahan dengan kantin mahasiswa. Hal yang menarik dilihat adalah susunan tempat duduknya.

Pihak Deakin University yang bekerjasama dengan Australian Intercultural Society sengaja mengatur posisi duduk yang menarik. Dalam satu meja terdiri dari 8 kursi, dengan komposisi 2 meja untuk muslim dan meja lain diisi pemeluk agama lain, termasuk Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Yahudi dan lainnya.

Para tokoh lintas agama duduk satu meja (Foto: Ikhwanul Khabibi/detikcom)


"Kegiatan ini sudah berjalan selama 6 tahun berturut. Kami mempertemukan orang-orang dengan latar belakang agama yang berbeda, budaya yang berbeda dan komunitas yang berbeda. Namun semangat kami adalah menumbuhkan rasa perdamaian, toleransi yang tinggi dan saling menghormati," kata Jane Den Hollander.

Wakil Rektor Deakin University, Professor Jane Den Hollander (Foto: Ikhwanul Khabibi/detikcom)


Selama acara berlangsung, para peserta akan saling berbagi kisah. Diskusi yang sangat menarik berkaitan dengan Islam dan hubungannya dengan agama lain menjadi pewarna buka bersama.

Para tokoh agama di Victoria saling berbagi kisah dengan penuh keramahan dan canda-tawa. Tidak ada kesan saling menggurui, semua berbagi dan saling mengenal satu sama lain.



"Yang kami harapkan adalah dengan saling bertemu dan berdialog akan menghilangkan salah pengertian yang selama ini sering muncul. Dari sini kita saling mengenal, mengetahui Islam sebenarnya. Salah pengertian sering terjadi karena kita tidak saling mengerti dan memahami," tegas Jane.

Menariknya, dalam acara buka bersama itu juga diperdengarkan azan sebagai penanda waktu masuk Magrib dan dibacakan petikan ayat Alquran disertai terjemahan dalam Bahasa Inggris. Sehingga, para peserta selain Islam bisa memahami maksud dari ayat Alquran yang dibacakan.

Pembacaan ayat suci Alquran (Foto: Ikhwanul Khabibi/detikcom)


Ayat-ayat Alquran dibacakan dengan suara yang sangat merdu. Sebagian besar peserta bahkan baru pertama kali mendengar azan dan mendengar ayat Alquran dibacakan.

Acara berbuka bersama juga diselingi dengan salat Magrib bagi para muslim. Sajian makanan pun disamakan dengan yang biasanya dimakan umat muslim saat berbuka, salah satunya dengan memakan kurma.

Seorang tokoh Yahudi di Victoria, David Marlow mengungkapkan bahwa selama berbincang dengan para tokoh muslim, dia menjadi lebih mengerti tentang Islam. Tidak ada alasan untuk membenci Islam sama sekali.

Dialog lintas agama, menjadi hal yang penting dilakukan. Jumlah umat Islam di Australia yang hanya sebesar 500.000 atau setara 3% dari total jumlah penduduk negeri Kanguru itu membuat warga muslim menjadi pihak minoritas.

"Ini adalah kali pertama saya mengikuti buka bersama dengan saudara yang beragama muslim di Deakin University. Kami berasal dari latar belakang budaya dan agama yang berbeda tapi bersama merayakan Ramadan. Dan juga mendapatkan pengalaman bagaimana mereka menjalankan ibadah dan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang nilai-nilai Ramadan," ungkap David yang merupakan Executive Director Jewish Community Council of Victoria.

"Ramadan mengajarkan untuk bersabar, saling menghormati dan saling berbagi. Akan sangat bagus bila hal seperti ini juga dilakukan di kalangan masyarakat bawah, makan bersama, bekerja bersama, dan mendiskusikan isu bersama untuk menghindari kesalahpahaman," imbuh David.

Executive Director Jewish Community Council of Victoria, David Marlow (Foto: Ikhwanul Khabibi/detikcom)


Sementara itu tokoh dari Buddhist Council of Victoria, Peggy Page, berdialog bersama dengan tokoh dari agama lain termasuk Islam semakin membuka wawasannya. Dia sangat mengagumi alunan ayat-ayat Alquran yang sempat dibacakan di tengah acara berbuka bersama.

Buddhist Council of Victoria, Peggy Page (Foto: Ikhwanul Khabibi/detikcom)


"Selama enam tahun saya selalu mengikuti acara ini, sebelumnya saya tidak tahu apa itu berbuka puasa dalam Islam. Di sini, mereka mengundang banyak orang dari berbagai agama untuk berbuka bersama. Sangat bagus bagi orang-orang untuk belajar dan lebih tahu tentang Islam, terutama di negara seperti Australia ini, di mana banyak sekali kepercayaan dan agama," tutur Peggy.

"Saya sangat mengapreasi dengan apa yang dilakukan tadi, saat ada yang membacakan Quran dan kami bisa mengetahui maksud dari yang dibacakan dari terjemahan yang ditampilkan," kesannya. (Hbb/slm)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads