ADVERTISEMENT

Gorila Ditembak Mati dan Perdebatan Panjang Soal Siapa yang Salah

Rachmadin Ismail - detikNews
Rabu, 01 Jun 2016 11:50 WIB
Gorila Harambe (Foto: REUTERS/Cincinnati Zoo/Handout via Reuters)
Cincinnati - Dunia berduka kehilangan Harambe, gorila yang ditembak mati di kebun binatang Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat. Usai kejadian, muncul perdebatan panjang di dunia, soal siapa yang salah. Apakah orang tua anak yang jatuh, pengelola kebun binatang atau gorila?

Kisah anak kecil berusia empat tahun yang jatuh ke kandang gorila ini terjadi pada Sabtu (28/5) lalu. Awalnya, sang anak memang sudah merengek pada ibunya ingin masuk ke kandang gorila, namun tak diberi izin. Namun ada satu momen di mana anak tersebut terlepas dari pengawasan, lalu masuk ke dalam kandang dengan cara merangkak melewati penghalang kandang.

Dari video yang beredar di YouTube, terlihat anak tersebut sempat berada dalam dekapan Harambe. Tak lama kemudian, sang gorila menyeret anak tersebut sambil berlari kencang. Sempat terdiam sejenak, gorila itu kemudian berjalan lagi ke arah ujung kandang.




Cerita selanjutnya diperoleh dari saksi mata. Sekitar 10 menit setelah bocah tersebut masuk kandang, petugas keamanan kebun binatang berdatangan. Mereka akhirnya memutuskan menembak mati gorila tersebut, bukan dengan obat bius. Alasannya, obat bius butuh waktu lama untuk bereaksi, sementara kondisi balita tadi dikhawatirkan terancam keselamatannya.

"Mereka akhirnya memilih menyelamatkan hidup anak laki-laki itu," kata Direktur Kebun Binatang Cincinnati Thane Maynard.

Balita tersebut akhirnya selamat. Walau sempat dirawat di rumah sakit dan mengalami gegar otak, ibunya memastikan anak-anaknya baik-baik saja.

Kisah ini rupanya tak berakhir begitu saja. Usai kejadian, perdebatan panjang muncul di semua kalangan. Semua orang mencari siapa yang salah. Ada yang berkomentar menyoroti kelalaian orang tua bocah tersebut karena tak bisa menjaga anak, ada yang mengkritik tindakan pengelola kebun binatang, sebagian lagi bicara soal desain kandang gorila, sampai analisis terkait perilaku gorila. Tiba-tiba semua orang jadi pakar dalam urusan parenting dan hewan primata.

Perdebatan paling hangat tentu saja soal orang tua yang dianggap lalai menjaga anaknya. Sampai-sampai ada yang membuat petisi. Ratusan ribu orang menandatangani petisi pada situs Change.org yang isinya mengkritik keras keputusan Kepolisian Cincinnati dan pihak kebun binatang untuk menembak mati si gorila. Mereka menuding orang tua bocah itu yang bertanggung jawab atas insiden yang menimpa anaknya.

"(Orang tua bocah itu harus) Diadili atas tindakan mereka tidak mengawasi anak mereka," demikian pernyataan petisi itu seperti dilansir Reuters, Senin (30/5/2016). Sejauh ini, polisi belum mendakwa orang tua terkait kasus tersebut.

Halaman Facabook berjudul 'Justice for Harambe' juga muncul pada Minggu (29/5) sore waktu setempat. Isinya, ikut mengecam orang tua bocah tersebut dan pengelola kebun binatang yang memilih menembak gorila.

Belakangan, banyak yang memberikan pembelaan pada orang tua balita tersebut. Kasus anak terpisah dari orang tua di tempat umum sudah jamak terjadi, dan hal itu kadang tak melulu salah orang tua.

petisi Harambe


Pakar parenting Mary Sheedy Kurcinka mengatakan, sebelum menghakimi ibunya, perlu diketahui bahwa seorang ibu pasti sudah melakukan semua hal untuk melindungi anaknya, termasuk kemungkinan masuk ke kandang gorila. Namun menurutnya, anak-anak memang punya kecenderungan untuk bereaksi terhadap lingkungan, bisa terstimulasi dan gigih mengejar sesuatu.

"Mereka memiliki energi yang tinggi, sangat intens dan bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuannya," kata penulis buku soal cara membesarkan anak tersebut di New York Times.

Sejumlah orang tua pun berkomentar. Menjadi orang tua sudah sangat berat, apalagi jadi orang tua sempurna. Ron Fournier di Atlantic menulis, publik terlalu cepat menghakimi sang ibunda. Padahal, seharusnya empati ditunjukkan padanya.

Sejauh ini, bocah tersebut dan ibunya belum pernah disebutkan namanya. Namun dalam sebuah komentar, ada wanita bernama Michelle Greeg yang mengaku sebagai ibu tersebut. Dia berharap, publik tak menyalahkan dirinya.

"Hari yang seharusnya menyenangkan jadi menakutkan," kata Greeg.

"Kami sangat berterima kasih kepada Tuhan bahwa anak kami aman. Dia ada di rumah dan baik-baik saja," kata pernyataan itu. Kami menyampaikan terima kasih yang tulus kami untuk tindakan cepat oleh staf kebun binatang Cincinnati. Kita tahu bahwa ini adalah keputusan yang sangat sulit bagi mereka, dan bahwa mereka berduka karena kehilangan gorila mereka," demikian komentarnya.

Apa pendapat Anda?
(mad/nrl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT