Disampaikan pejabat keamanan setempat, seperti dilansir AFP, Senin (30/5/2016), bentrokan itu merupakan bagian dari operasi militer terhadap kelompok militan Maute, yang telah menyatakan sumpah setia kepada Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Bentrokan terjadi kota kecil Butig, yang mayoritas penduduknya memeluk Islam, di Provinsi Lanao del Sur. Operasi militer itu berlangsung sejak Rabu (25/5) pekan lalu, dan terus berlanjut hingga kini.
Sedikitnya 10 tentara Filipina lainnya luka-luka dalam operasi itu dan sekitar 2 ribu warga setempat terpaksa mengungsi ketika bentrokan terjadi. Operasi militer itu diluncurkan setelah militan Maute bergerak mendekati wilayah yang berhasil diamankan militer Filipina saat bentrokan bulan Februari lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Wartawan Kriminal Filipina Tewas Ditembak di Manila
Kolonel Murillo menuturkan, tentara yang bertugas di Butig tengah dikerahkan untuk membantu pengamanan di wilayah lainnya saat pemilihan umum digelar pada 9 Mei lalu. Berdasarkan laporan intelijen, Kolonel Murillo menyebut sekitar 37 militan diyakini tewas dalam bentrokan itu. Namun, lanjutnya, tidak ada jasad militan yang berhasil ditemukan.
Secara terpisah, komandan divisi militer yang mengawasi operasi militer itu, Jenderal Gerardo Barrientos meyakini kelompok militan itu memiliki anggota kurang dari 100 orang. Namun demikian, militan itu tetap menjadi ancaman di wilayah Butig dengan serangkaian aksi terornya.
Meski kehilangan markas, menurut Jenderal Barrientos, militan itu sempat mengebom menara transmisi listrik, kemudian juga menculik dan memenggal dua pekerja di tempat pemotongan kayu pada April lalu. "Kelompok itu berniat merebut kembali wilayah itu," sebut Jenderal Barrientos.
Wilayah Filipina bagian selatan banyak diwarnai gerakan separatis dan militansi selama empat dekade terakhir. Berbagai konflik yang melanda wilayah selatan tercatat menewaskan lebih dari 120 ribu orang.
Baca juga: Langgar Perbatasan Laut, 10 Nelayan China Ditangkap Filipina
Jenderal Barrientos menambahkan, militan Maute diyakini masih berkaitan dengan kelompok Jemaah Islamiyah, yang mendalangi bom Bali tahun 2002 lalu dan menewaskan 202 orang. Jemaah Islamiyah sendiri sudah sejak lama muncul di wilayah Filipina bagian selatan dan dilaporkan melatih warga lokal.
(nvc/nwk)











































