Disampaikan Klub Pers Nasional Filipina, seperti dilansir AFP, Sabtu (28/5/2016), wartawan bernama Alex Balcoba (56) ini diserang di pusat wilayah Manila pada Jumat (27/5) malam, di luar sebuah kios reparasi jam milik keluarganya. Balcoba merupakan wartawan dari tabloid People's Brigada.
Presiden Klub Pers Nasional, Paul Gutierrez, menyebut sejauh ini ada lebih dari 30 kasus pembunuhan jurnalis di Filipina, sejak tahun 2010, tanpa ada pelaku yang diadili. "Budaya impunitas yang ada di belakang serangan-serangan semacam ini belum ditangani oleh otoritas setempat, meskipun berulang kali diserukan dan dijanjikan," imbuh Gutierrez.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pernyataannya, kepolisian Manila membenarkan bahwa Balcoba tewas ditembak, namun tidak ada informasi lebih lanjut soal kasus ini. Gutierrez menambahkan, polisi setempat memastikan kasus ini akan diselidiki secara mendalam.
Motif pembunuhan ini belum diketahui pasti. Kerabat Balcoba menyebutnya sebagai sosok wartawan dan kolumnis yang banyak menulis soal polisi Manila sejak tahun 1990-an. Tabloid People's Brigada yang tidak terlalu dikenal di Filipina, belum menanggapi insiden ini.
Menurut Serikat Jurnalis Nasional Filipina, Balcoba merupakan wartawan kedua yang dibunuh di Filipina sepanjang tahun ini dan wartawan ke-34 yang tewas dibunuh selama masa pemerintahan Presiden Benigno Aquino. Jika dihitung sejak berakhirnya pemerintahan otoritas Ferdinand Marcos sekitar 30 tahun lalu, Balcoba merupakan wartawan ke-174 yang tewas dibunuh. Sejak tahun 1986 lalu, hanya ada 10 pelaku pembunuhan wartawan yang diadili.
Meski memiliki kebebasan pers, Filipina menjadi salah satu negara yang paling berbahaya untuk wartawan, dengan banyaknya praktik pembunuhan yang didalangi tokoh berpengaruh terhadap para pengkritiknya tanpa ada tindak lanjut secara hukum.
(nvc/fjp)











































