Hal ini mempersulit aliansi Kurdi-Arab yang tengah melancarkan serangan terhadap ISIS di wilayah tersebut. Aliansi tersebut, Pasukan Demokratis Suriah melancarkan serangan besar-besaran pada Selasa, 24 Mei waktu setempat di wilayah sebelah utara Raqa.
"Mereka (ISIS) menggunakan warga sipil sebagai tameng. Jadi Anda akan menemukan mereka di gedung yang sama. Di gedung warga sipil, Anda akan menemukan dua atau tiga apartemen untuk para petempur ISIS," tutur Abdel Aziz al-Hamza, salah satu pendiri organisasi Raqa is Being Slaughtered Silently, seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (25/5/2016).
"Mereka (ISIS) juga bicara soal sejumlah sekolah sebagai tempat untuk tinggal karena sekolah-sekolah ini memiliki ruang bawah tanah, sesuatu di bawah tanah, sehingga mereka terlindung dari serangan-serangan udara. Dan mereka dikelilingi oleh bangunan-bangunan warga sipil," imbuh aktivis Suriah tersebut.
Diperkirakan sekitar 50 ribu warga sipil masih terjebak di wilayah Raqa. "Warga sipil terkepung, mereka tak bisa meninggalkan kota mereka," tutur Hamza yang kabur dari Raqa pada Januari 2014 dan kini bermukim di Jerman.
"ISIS tidak membiarkan siapapun meninggalkan kota itu. Di saat yang sama, kehidupan menjadi setidaknya sepuluh kali lebih mahal di kota tersebut," kata Hamza. (ita/ita)











































