Hal tersebut disampaikan juru bicara Departemen Luar Negeri AS Mark Toner kepada para wartawan, saat ditanya mengenai laporan bahwa Korut kemungkinan akan kembali melakukan uji coba nuklir atau rudal.
Diimbuhkan Toner, PBB baru-baru ini telah menerapkan sejumlah sanksi terberatnya terhadap Pyongyang terkait uji coba nuklir dan rudal yang terus dilakukan negeri komunis itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Korut saat ini diyakini tengah kembali menyiapkan uji coba peluncuran rudal balistik jarak menengah. Persiapan ini dilakukan menyusul gagalnya upaya peluncuran rudal sebelumnya.
Pada 15 April lalu, Korut gagal meluncurkan rudal Musudan, yang memiliki jarak jangkauan lebih dari 3 ribu kilometer. Ini artinya, jika rudal itu berhasil diluncurkan, rudal tersebut bisa menjangkau Jepang dan secara teori, juga bisa menjangkau Guam yang merupakan bagian dari wilayah teritorial Amerika Serikat.
Korut melakukan uji coba bom nuklir keempatnya pada 6 Januari lalu dan meluncurkan sebuah roket jarak jauh pada 7 Februari lalu. Kedua hal itu jelas merupakan pelanggaran resolusi PBB. Pada Sabtu, 23 April lalu, Korut pun melakukan uji coba rudal balistik yang diluncurkan kapal selam.
"Ada indikasi bahwa Korut mungkin menembakkan sebuah rudal Musudan yang diluncurkan dan gagal saat ulang tahun Kim Il Sung pada 15 April," ujar pejabat pemerintah Korea Selatan (Korsel) yang tak disebutkan namanya, seperti dikutip kantor berita Korsel, Yonhap dan dilansir Reuters, Selasa (26/4/2016). Kim Il Sung merupakan pendiri Korut.
Para analis menyebut, kegagalan pada 15 April itu merupakan pukulan mematikan bagi pemimpin Korut saat ini, Kim Jong Un, cucu dari Kim Il Sung. Dalam beberapa bulan terakhir, Kim Jong Un telah mengklaim beberapa kemajuan dalam teknologi senjata, dan diperkirakan akan memerintahkan uji coba nuklir kelima dalam waktu dekat.
(ita/ita)











































