Seperti dilansir CNN, Rabu (27/4/2016), militer Israel secara luas mempraktikkan taktik yang disebut 'knock-on-the-roof' ini dalam operasi militer di Gaza beberapa tahun terakhir. Tujuan taktik ini agar warga sipil dapat mengungsi sebelum serangan dilakukan.
Baca juga: ISIS Mengklaim Dalangi Serangan Bom Mobil di Suriah
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia (pejabat ISIS) merupakan penyalur dana terbesar untuk petempur Daesh (nama Arab ISIS)," terang Gestern.
"Kami mengamati dia masuk dan keluar dari rumah itu, kami mengawasi suplai yang disalurkannya, kami mengawasi keamanan yang ada di sekitar rumah itu. Dan kami juga mengawasi seorang wanita beserta anak-anaknya masuk dan keluar dari rumah yang sama," imbuhnya.
Baca juga: Aliansi Suriah Sambut Baik Pengiriman 250 Tentara AS Untuk Perangi ISIS
Dengan menggunakan pesawat pengintai dan aset intelijen lainnya, AS terus mengawasi aktivitas di rumah itu dan sekitarnya. Kemudian AS merumuskan rencana untuk membuat wanita dan anak-anaknya itu, serta warga sipil lainnya keluar dari gedung, sebelum serangan sebenarnya dilakukan.
"Kami bahkan mengerahkan sebuah Hellfire di atas gedung dan memicu ledakan di udara (air-burst) agar tidak menghancurkan gedung, dengan sederhana mengetuk atap untuk memastikan wanita itu dan anak-anaknya keluar dari gedung. Dan kemudian kami melakukan operasi kami," ucapnya.
Baca juga: Turki Akan Gunakan Sistem Roket Canggih AS dalam Melawan ISIS
Lebih lanjut Gersten mengakui adanya pengaruh Israel dalam operasi militer melawan ISIS. "Dari situlah kami mendapat taktik dan teknik serta prosedurnya," tuturnya.
Gersten tidak mengindikasikan apakah militer Israel secara formal memberikan briefing kepada komandan-komandan AS soal 'knock operation', namun dia menyebut militer AS mengawasi dan memantau prosedur yang dilakukan Israel. Gersten menambahkan, selebaran juga disebarkan untuk memperingatkan warga sipil sebelum serangan dilakukan.
(nvc/ita)











































