Sumber yang dikutip surat kabar ternama Israel, Yedioth Ahronoth dan dilansir Reuters, Jumat (22/4/2016), tidak menyebut waktu dan lokasi insiden tersebut. Tidak ada indikasi apakah pesawat Israel terkena tembakan militer Rusia itu.
Rusia dan Israel sama-sama menggelar misi militer di wilayah Suriah yang dilanda konflik sejak 5 tahun terakhir. Rusia melancarkan serangan udara di wilayah Suriah sejak September tahun lalu untuk membantu rezim Presiden Bashar al-Assad. Sedangkan Israel, beberapa waktu lalu, telah mengakui militernya berulang kali membombardir wilayah Suriah demi menggagalkan penyaluran senjata untuk kelompok Hizbullah asal Libanon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juru bicara militer Israel enggan mengomentari insiden itu. Kantor PM Netanyahu dan Kedutaan Besar Rusia di Israel belum memberi komentar. Di sisi lain, sebut sumber itu, Israel dengan cepat membangun koordinasi operasional dengan Rusia untuk menghindari benturan dan aksi saling tembak di antara militer kedua negara.
"Saya datang ke sini dengan satu tujuan utama -- untuk memperkuat koordinasi keamanan antara kita demi menghindari kecelakaan, kesalahpahaman dan konfrontasi tidak perlu," ucap PM Netanyahu kepada Presiden Rusia Vladimir Putin ketika berkunjung ke Moskow pada Kamis (21/4).
Putin langsung menanggapi pernyataan itu dengan mengatakan: "Saya pikir ada alasan-alasan yang bisa dipahami untuk kontak intensif (dengan Israel) ini, merujuk pada situasi yang rumit di wilayah tersebut (Suriah)."
Menurut surat kabar Yedioth Ahronoth, insiden penembakan pesawat Israel oleh pesawat Rusia itu, pertama dibahas oleh Presiden Israel Reuven Rivlin ketika berkunjung ke Moskow dan bertemu Putin pada Maret lalu. Saat itu, sebut Yedioth, Putin mengaku dirinya tidak mengetahui insiden itu.
(nvc/ita)











































