Menurut statistik pemerintah AS seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (22/4/2016), jumlah kasus bunuh diri meningkat sekitar 1 persen per tahun sejak 1999 silam, kemudian meningkat menjadi 2 persen per tahun mulai 2006 hingga 2014.
Menurut laporan pemerintah AS, lonjakan kasus bunuh diri itu terjadi di kalangan pria dan wanita dan untuk semua usia mulai 10-74 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita melihat anak-anak yang lebih muda meninggal karena bunuh diri," tutur Victor Fornari, direktur divisi kejiwaan anak dan remaja di Rumah Sakit Zucker Hillside di Glen Oaks, New York. "Ini sangat mengkhawatirkan," imbuhnya.
Dalam laporan itu terlihat, di kalangan pria, mereka yang berumur di atas 75 tahun paling banyak melakukan bunuh diri pada tahun 1999 dan 2014. Sementara di kalangan wanita, tingkat bunuh diri tertinggi terjadi di kelompok usia 45-64 tahun pada tahun 1999 dan 2014.
"Kelompok usia ini juga memiliki lonjakan persentase terbesar kedua -- 63 persen -- sejak tahun 1999," demikian laporan pemerintah AS tersebut.
Juga diketahui bahwa sebagian besar mereka yang bunuh diri adalah yang memiliki gangguan kejiwaan. "Mayoritas orang yang tewas bunuh diri memiliki penyakit kejiwaan -- seperti depresi, kepribadian ganda, ketergantungan zat kimia, schizophrenia," tutur Jeffrey Borenstein, CEO Yayasan Riset Otak dan Perilaku.
Mengenai metode bunuh diri, yang paling banyak di kalangan pria adalah dengan senjata api. Sementara di kalangan wanita, paling banyak menggunakan racun. (ita/ita)











































