Saat berbicara di depan kelompok lobi J Street di Washington, seperti dilansir Reuters, Selasa (19/4/2015), Biden menyatakan meski ada perbedaan pendapat dengan Israel soal permukiman Yahudi dan juga kesepakatan nuklir Iran, AS tetap memiliki kewajiban untuk mendorong Israel pada solusi dua negara demi mengakhiri konflik Israel-Palestina.
"Kami memiliki kewajiban besar, sekalipun terkadang kami merasa frustrasi berat dengan pemerintah Israel, untuk mendorong mereka sekuat tenaga pada satu-satunya solusi utama, solusi dua negara, sementara di saat yang sama menjadi penjamin penuh keamanan mereka," terang Biden.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Biden menyebut pertemuannya baru-baru ini dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas membuatnya berkecil hati soal prospek perdamaian antara kedua pihak.
"Saat ini, sepanjang pengamatan saya pada Israel dan juga Palestina, tidak ada kehendak politik untuk bergerak maju dengan perundingan yang serius. Kepercayaan yang diperlukan untuk perdamaian, telah retak oleh kedua pihak itu sendiri," tuturnya.
Menurut Biden, baik Palestina maupun Israel harus mengurangi retorika yang berpotensi menambah ketegangan dan merusak perundingan yang diupayakan. Lebih lanjut, Biden menyebut upaya Palestina untuk bergabung dengan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) hanya menjauhkan upaya perundingan damai. Sedangkan aktivitas ekspansi permukiman Yahudi oleh Israel, menurut Biden, telah membawa Israel ke arah yang salah.
"Mereka malah bergerak ke arah realitas satu negara dan realitas itu berbahaya," ucap Biden, sembari memperingatkan bahwa realitas satu negara itu berarti konflik tiada akhir.
(nvc/ita)











































