Secara formal, Israel berada di posisi netral dalam konflik Suriah yang telah berlangsung sejak tahun 2011 lalu. Sejak lama, Israel bersumpah untuk mencegah pengiriman persenjataan kepada kelompok Hizbullah yang menjadi musuh Israel tersebut.
Pengakuan ini disampaikan Netanyahu ketika mengunjungi tentara Israel yang ditugaskan di wilayah Golan Heights, dekat perbatasan Suriah pada Senin (11/4) waktu setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Militer Israel Minta Para Mantan Tentara Kembalikan Ratusan Senjata
Netanyahu tidak menyebut lebih lanjut jenis serangan udara seperti apa yang dilakukan Israel di Suriah. Netanyahu juga tidak menyebutkan waktu pelaksanaan atau informasi detail lainnya soal serangan udara itu.
Israel menyambut baik gencatan senjata di Suriah pada Februari lalu. Namun negara Yahudi itu terindikasi masih bisa melancarkan serangan jika melihat ada ancaman dari Hizbullah, yang bermarkas di Libanon dan beraliansi kuat dengan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Pemimpin Israel meminta jaminan dari Rusia bahwa penarikan sebagian militernya dari Suriah, tidak akan membuat Iran dan Hizbullah yang didukungnya, semakin kuat. Rusia yang mengerahkan militernya ke Suriah sejak tahun lalu untuk membantu rezim Assad, memutuskan menarik sebagian personelnya.
Tahun 2006 lalu, seperti dilansir AFP, Israel dan Hizbullah terlibat perang yang menewaskan nyaris 1.200 warga Libanon terutama warga sipil dan sekitar 160 warga Israel, yang sebagian besar personel militer. Menurut pemimpin Israel, sejak perang itu Hizbullah meningkatkan kemampuan roketnya agar bisa menyerang wilayah Israel lebih dalam.
Baca juga: PM Netanyahu Dikritik Almarhum Mantan Bos Mossad
(nvc/ita)










































