Kabinet Mesir pada Sabtu (9/4) mengumumkan penyerahan kedaulatan pulau-pulau strategis Tiran dan Sanafir kepada Arab Saudi setelah Raja Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud tiba di Kairo, Mesir untuk kunjungan lima hari.
Seperti dilansir media Press TV, Senin (11/4/2016), pengumuman mengejutkan itu menuai kemarahan publik Mesir, yang selama puluhan tahun telah menganggap kedua pulau itu sebagai milik Mesir. Para aktivis menyebut Sisi telah menjual wilayah Mesir lewat konsesi memalukan dengan sekutu kaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para mantan pejabat juga mengecam keputusan itu. Mantan kepala Otoritas Operasi Militer Mesir, Abdel Munem Said mencetuskan, Tiran dan Sanafir adalah milik Mesir. Dia pun menyerukan parlemen untuk tidak meratifikasi keputusan pemerintah tersebut.
Aksi demo bahkan digelar di Kairo pada Minggu (10/4) untuk memprotes keputusan tersebut. Polisi menahan lima aktivis selama aksi tersebut.
Pulau Tiran terletak di pintu masuk Selat Tiran, yang memisahkan Laut Merah dari Teluk Aqaba. Letak pulau ini strategis karena menjadi jalur laut ke pelabuhan besar Aqaba di Yordania dan Eilat di Israel. Israel sempat menguasai pulau itu saat Krisis Suez pada akhir tahun 1956 lalu dan juga antara tahun 1967-1982 saat Perang Enam Hari atau Perang Arab-Israel.
Sedangkan pulau Sanafir terletak di sebelah timur Pulau Tiran dan berukuran 33 kilometer persegi. Kepemilikan kedua pulau itu diserahkan ke Mesir pada tahun 1982, ketika Israel dan Mesir menandatangani kesepakatan damai Camp David. (ita/ita)











































