Dilansir Daily Mail, Senin (11/4/2016), teman-temannya mengatakan bahwa Miming memiliki passion di bidang kuliner. Dia pun bercita-cita menjadi pastry chef dan membuka usaha sendiri di Indonesia.
Miming belajar untuk menjadi chef di salah satu sekolah kuliner ternama, Le Cordon Bleu Australia. Kursus itu dijalani sambil bekerja di bisnis suku cadang milik sang ayah, demikian seperti dilaporkan Sydney Morning Herald.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akun media sosialnya dipenuhi foto-foto dari kafe dan restoran di Sydney, Melbourne serta kota-kota lain di Asia. Ada pula hasil karyanya di dapur yang dipamerkan.
Salah satu teman dekatnya mengatakan bahwa Miming sempat ke Jakarta bersama keluarganya tetapi kemudian kembali ke Australia untuk mengurus visa permanent resident-nya. Saat itulah, Miming justru tewas dibunuh Khanh Thanh Ly (35) di tepi sungai di Sydney.
"Tepat sebelum dia kembali ke Sydney, dia bercerita tentang rencana membuka usaha pastry-nya sendiri. Dia sangat senang karena akhirnya bisa mewujudkan mimpinya," kata salah seorang temannya.
Baca Juga: Sebelum Dibunuh, Miming Belum Lama Kembali ke Sydney dari Indonesia
Temannya tersebut tidak percaya hal yang keji bisa menimpa Miming. Lulusan University of Technology Sydney itu dikenal cerdas dan ramah.
"Dia berteman dengan hampir semua orang dan siapa saja," ujarnya.
Jasad Miming dalam keadaan tanpa busana ditemukan mengapung di tepi Sungai Parramatta di kawasan Cabarita Wharf, Sydney. Kepolisian setempat juga telah menemukan sebuah kartu ATM dan sepasang sepatu wanita di dekat lokasi temuan jasad.
Pria yang diduga membunuhnya adalah Khanh Thanh Ly. Seperti diwartakan Telegraph, polisi New South Wales telah menetapkan Ly sebagai tersangka pembunuhan. Ly disebut terkait dengan kelompok pengedar narkoba yang disebut Bali Nine. (imk/imk)










































