Kosongkan Jadwal Seminggu, PM Netanyahu Siap Temui Presiden Palestina

Kosongkan Jadwal Seminggu, PM Netanyahu Siap Temui Presiden Palestina

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 05 Apr 2016 12:42 WIB
Kosongkan Jadwal Seminggu, PM Netanyahu Siap Temui Presiden Palestina
Benjamin Netanyahu (REUTERS/Abir Sultan/Pool)
Yerusalem - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengundang kembali Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk bertemu dengannya. PM Netanyahu mengaku sengaja mengosongkan jadwal selama seminggu untuk bertemu Presiden Abbas.

"Beberapa hari lalu, di televisi Israel, saya mendengar presiden Abbas mengatakan, jika saya mengundang dia untuk bertemu, dia akan datang," ucap PM Netanyahu kepada wartawan di sela-sela pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Republik Ceko Lubomir Zaoralek, seperti dilansir AFP, Selasa (5/4/2016).

"Saya mengundangnya (Mahmoud Abbas-red) lagi. Saya telah mengosongkan jadwal saya pekan ini. Kapan saja dia bisa datang, saya akan menunggu di sini," imbuhnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam wawancara dengan televisi Israel, Channel 2 pada Kamis (31/3) lalu, Presiden Abbas menyatakan dirinya siap bertemu PM Netanyahu kapan saja. "Dan omong-omong, saya menawarkan kepadanya untuk bertemu," ucapnya dalam bahasa Inggris dalam wawancara itu.

Baca juga: Presiden Abbas Sebut Palestina Berupaya Cegah Kekerasan pada Warga Israel

Menanggapi pernyataan PM Netanyahu itu, juru bicara presiden Palestina, Nabil Abu Rudeina menyebut Presiden Abbas hanya menginginkan perdamaian yang didasarkan pada kesepakatan dan legitimasi internasional yang telah ditandatangani.

"Posisi kami adalah Israel harus mengakui solusi dua negara dan menghentikan pembangunan permukiman (Yahudi)," ujar Rudeina kepada AFP.

Ditambahkan PM Netanyahu, jika dirinya dan Abbas jadi bertemu, maka dirinya akan membahas serangkaian serangan terhadap warga Israel yang marak sejak Oktober tahun lalu. Sedikitnya 28 warga Israel dan 200 warga Palestina, yang sebagian besar pelaku serangan, tewas dalam gelombang kekerasan tersebut.

"Kami memiliki banyak hal untuk dibahas, tapi hal pertama ialah mengakhiri kampanye penghasutan Palestina untuk membunuh warga Israel," sebutnya.

(nvc/ita)


Berita Terkait