Disampaikan organisasi pemantau konflik Suriah, Syrian Obvervatory for Human Rights, seperti dilansir Reuters, Senin (4/4/2016), eksekusi mati ini merupakan yang terbesar yang pernah dilakukan ISIS terhadap anggotanya. Observatory memantau konflik Suriah selama 5 tahun terakhir melalui jaringan dan sumber-sumber langsung di lapangan.
Eksekusi mati ini dilakukan penangkapan 35 anggota ISIS di Raqqa, pada Sabtu (2/4) waktu setempat. Observatory menyebut, 15 anggota ISIS dieksekusi mati di suatu lokasi dekat Raqqa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para anggota ISIS yang dieksekusi mati dituding terkait dengan pembunuhan tokoh senior ISIS, Abu Hija al-Tunisi. Disebutkan Observatory, Tunisi tewas dalam serangan udara pada Rabu (30/3) lalu.
"Spionase dan korupsi di bumi," sebut Observatory soal alasan yang mendasari eksekusi mati itu.
"Menyamar menjadi anggota al-Hisba (polisi syariah ISIS)," imbuhnya.
Beberapa waktu terakhir, ISIS mulai mengalami kemunduran di wilayah Suriah, yang dipicu oleh serangan udara koalisi AS ditambah serbuan militer Suriah yang didukung serangan udara militer Rusia.
Pekan lalu, militer rezim Presiden Bashar al-Assad berhasil merebut kota kuno Palmyra yang selama 10 bulan terakhir dikuasai ISIS. Di kota itu, tentara Suriah kemudian menemukan kuburan massal korban kekejaman ISIS, yang terdiri atas puluhan jasad manusia yang sebagian besar warga sipil setempat.
Baca juga: Suriah Temukan Kuburan Massal Korban Kekejaman ISIS di Palmyra
(nvc/asp)











































