Seperti dilansir AFP, Sabtu (26/3/2016), kepolisian Prancis menggelar penggerebekan di sebuah rumah yang ada di wilayah Argenteuil, pinggiran Paris pada Kamis (24/3). Dalam penggerebekan itu, polisi menangkap tersangka yang diidentifikasi sebagai Reda Kriket (34) , warga Prancis.
Polisi menyita sejumlah senapan termasuk jenis Kalashnikov dan juga peledak jenis TATP yang banyak digunakan militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Peledak TATP yang ditemukan di lokasi, menurut polisi, sudah siap digunakan. Polisi juga menemukan sejumlah bahan-bahan pembuat bom seperti aseton dan oksigen cair dalam penggerebekan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sumber kepolisian setempat menyebut, Kriket telah dinyatakan bersalah secara in absentia dalam persidangan di Brussels pada Juli tahun lalu dan divonis 10 tahun penjara. Kriket terbukti tergabung dalam jaringan yang merekrut militan ke Suriah.
Penyelidikan menunjukkan Kriket berperan penting dalam mendanai jaringan perekrut militan itu, melalui perampokan dan pencurian. Dalam persidangan di Belgia, Kriket diadili bersama Abdehamid Abaaoud yang menjadi pemimpin kelompok militan yang mendalangi teror Paris pada 13 November tahun lalu.
Abaaoud sendiri, yang juga disidang secara in absentia, dijatuhi vonis 20 tahun penjara oleh pengadilan Belgia. Selang lima hari setelah teror Paris tahun lalu, Abaaoud tewas dalam baku tembak dengan polisi di pinggiran Paris.
Penggerebekan ini digelar beberapa hari setelah ledakan bom di Brussels yang merenggut 31 nyawa. Kepolisian di Prancis dan Belgia masih berusaha mencari bukti-bukti keterkaitan teror Paris tahun lalu dengan teror bom Brussels pada Selasa (22/3) waktu setempat. Terlebih, tersangka kunci teror Paris, Salah Abdeslam, yang pekan lalu ditangkap di Brussels, diketahui terkait dengan dua pelaku bom bunuh diri Burrsels, Ibrahim dan Khalid El Bakraoui.
(nvc/tor)










































