Disampaikan otoritas Belgia, seperti dilansir AFP, Kamis (24/3/2016), sedikitnya 31 orang tewas dan sekitar 300 orang lainnya luka-luka akibat tiga serangan bom yang mengguncang ibukota Brussels pada Selasa (22/3). Dari jumlah tersebut,Β sekitar 61 korban luka kini kritis di rumah sakit setempat.
Menteri Luar Negeri Belgia, Didier Reynders, menyebut orang-orang dari 40 negara menjadi korban tewas dan korban luka. Disebutkan Reynders, para korban diidentifikasi berasal dari Peru, Inggris, Kolombia, Ekuador, Prancis, Jerman, Hungaria, Portugal, Rumania, Spanyol dan Amerika Serikat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Korban tewas pertama yang diidentifikasi adalah Adelma Marina Tapia Ruiz (37) dari Pucallpa, Peru, yang sudah 9 tahun tinggal di Belgia. Ruiz tewas dalam ledakan kembar di bandara Brussels, ketika hendak terbang ke New York bersama suaminya warga Belgia Christophe Delcambe yang berprofesi sebagai jurnalis serta putri kembar mereka yang berusia 3 tahun.
Suami dan kedua putri Ruiz berhasil selamat setelah sang suami mengejar dua putrinya yang lari saat ledakan terjadi. Salah satu putri Ruiz mengalami luka-luka terkena puing-puing di lokasi ledakan. "Mereka (pengebom) merenggut semuanya dari hidupnya (Ruiz)," ucap saudara laki-laki Ruiz, Fernando Tapia.
Proses identifikasi para korban membutuhkan ketelitian. "Prosesnya rumit, tidak hanya karena ledakannya sangat kuat tapi juga karena ada banyak warga asing," tutur juru bicara kepolisian Belgia kepada televisi lokal, RTBF.
Korban tewas lainnya yang telah diidentifikasi adalah mahasiswa hukum asal Belgia bernama Leopold Hecht (20). Hecht tewas akibat ledakan bom di stasiun metro Maelbeek, dekat kantor pusat Uni Eropa. Korban tewas lainnya akibat ledakan di stasiun Maelbeek ialah Olivier Delespesse yang berprofesi sebagai pegawai negeri di Wallonie-Bruxelles.
Baca juga: Kisah Mengharukan di Balik Foto Dua Pramugari Korban Bom Brussels
Secara terpisah, Departemen Luar Negeri AS menyebut beberapa warganya menjadi korban luka dalam ledakan Brussels, tanpa menyebut jumlah pastinya. Mereka menyatakan sejauh ini belum ada warga AS yang menjadi korban tewas.
Pemuda AS bernama Mason Wells (19) yang seorang misionaris Mormon dari Utah, bahkan sempat berada di dua lokasi serangan teror lainnya, yakni di Paris pada November tahun lalu dan di Boston pada April 2013. Wells dilaporkan luka parah akibat ledakan di bandara Brussels.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengkonfirmasi tiga warga negara Indonesia menjadi korban luka akibat ledakan bandara Brussels. Ketiga WNI yang menjadi korban dalam ledakan itu adalah Meilissa Aster Ilona beserta dua anaknya, Lucie Vansilliette, dan Philippe Vansilliette. KBRI Brussels mengatakan Meilissa dan putrinya, Lucie, masih dalam keadaan koma hingga Rabu 23 Maret sementara Philippe dalam keadaan stabil.
Baca juga: Korban WNI yang Terluka Akibat Bom di Brussels Masih Dipantau Kondisinya
(nvc/nrl)











































