Turki Akan Rekrut 15 Ribu Polisi Baru Untuk Perangi Terorisme

Turki Akan Rekrut 15 Ribu Polisi Baru Untuk Perangi Terorisme

Rita Uli Hutapea - detikNews
Kamis, 17 Mar 2016 14:59 WIB
Turki Akan Rekrut 15 Ribu Polisi Baru Untuk Perangi Terorisme
Foto: REUTERS/Sertac Kayar
Ankara, - Partai berkuasa Turki telah mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) ke parlemen mengenai perekrutan 15 ribu polisi baru untuk meningkatkan upaya-upaya melawan terorisme.

Ini dilakukan menyusul ledakan bom mobil di Ankara yang menewaskan 37 orang beberapa hari lalu.

Turki telah berada dalam keadaan siaga tinggi menyusul serangkaian serangan teror di wilayahnya, termasuk ledakan bom di Ankara pada Minggu, 13 Maret lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut RUU yang diajukan partai Justice and Development Party (AKP) yang dipimpin Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, belasan ribu polisi baru tersebut akan ditempatkan di cabang-cabang antiterorisme.

RUU ini rencananya akan dibahas di parlemen pekan depan.

"Misi paling dasar bagi negara adalah memastikan bahwa warga negaranya menjalani kehidupan secara damai dan aman, jauh dari ketakutan atau kekhawatiran," demikian bunyi RUU tersebut seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (17/3/2016).

Diimbuhkan bahwa tanggung jawab terbesar dalam hal ini berada di departemen kepolisian, yang bertugas memerangi segala bentuk kejahatan.

Otoritas Turki menuding kelompok terlarang militan Kurdi, Kurdistan Workers' Party (PKK) sebagai dalang serangan bom mobil di Ankara.

Para pejabat keamanan Turki mengatakan, bukti-bukti telah diperoleh bahwa salah satu pelaku bom mobil itu adalah seorang wanita anggota PKK. Dia bergabung dengan kelompok itu pada tahun 2013. Wanita itu dilahirkan tahun 1992 dan berasal dari kota Kars, Turki timur.

Serangan bom tersebut merupakan serangan bom serupa kedua kalinya di jantung kota Ankara dalam waktu sebulan ini. Sebelumnya, Kelompok Kurdistan Freedom Hawks (TAK) mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom mobil pada 17 Februari lalu. TAK menyatakan pihaknya telah memisahkan diri dari PKK. Namun menurut para pakar yang mempelajari militan-militan Kurdi, kedua kelompok itu masih terafiliasi.

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads